Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pembiayaan Infrastruktur 2022, Konektivitas dan Produktivitas Jadi Sasaran

Pemerintah menyatakan belanja pemerintah pusat akan mendominasi sumber pembiayaan program infrastruktur pada 2022 sekitar 44,28 persen atau senilai Rp1704 triliun.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 Agustus 2021  |  21:14 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan rangka baja proyek infrastruktur di Jakarta. - JIBI/Dwi Prasetya
Pekerja menyelesaikan pembangunan rangka baja proyek infrastruktur di Jakarta. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah akan fokus membangun infrastruktur pada empat sektor, yakni pelayanan dasar, konektivitas dan mobilitas, energi dan pangan, dan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Mayoritas pembiayaan infrastruktur tersebut akan berasal dari pemerintah pusat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan anggaran yang dikucurkan dalam program infrastruktur pada 2022 adalah Rp384,8 triliun. Angka tersebut susut 15,74 persen dari anggaran infrastruktur tahun ini senilai Rp414 triliun.

"[Tema belanja infrastruktur tahun ini] meningkatkan produktivitas dan meningkatkan konektivitas. Namun, kami akan semakin selektif [dalam memilih proyek infrastruktur] dan efisiensi akan semakin baik," katanya dalam konferensi pers virtual, Senin (16/8/2021).

Sri mencatat belanja pemerintah pusat akan mendominasi sumber pembiayaan program infrastruktur pada 2022 sekitar 44,28 persen atau senilai Rp1704 triliun. Sementara itu, dana dari transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) akan berkontribusi hingga 30,97 persen atau Rp119,2 triliun.

Adapun, program infrastruktur yang berasal dari utang negara mencapai 24,74 persen atau senilai Rp95,2 triliun.

Dalam sektor pelayanan dasar, Sri mendata akan ada 4 infrastruktur yang akan dibangun, yakni rumah khusus sekitar 2.250 unit, rumah susun sebanyak 3.501 unit, penambahan 222.425 sambungan rumah (SR) ke dalam sistem penyediaan air minum (SPAM), dan sistem pengolahan air limbah untuk 7.904 kepala keluarga (KK).

Untuk sektor konektivitas dan mobilitas, infrastruktur yang akan dibangun adalah 3 jenis infrastruktur konektivitas dan 2 jenis infrastruktur mobilitas. Secara detail, infrastruktur yang akan dibangun adalah 205 kilometer jalan baru, 8.244 meter jembatan baru, Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS), 6.624 kilometer spoor (km'sp) jalur kereta api, dan 6 bandar udara baru.

Sementara itu, pemerintah juga akan membangun jaringan gas ruah tangga ke 10.000 SR dan jaringan irigasi untuk mengairi lahan seluas 105.000 hektar.

Untuk bidang akses TIK, Sri berujar pemerintah akan membangun 2.344 base transceiver station (BTS) di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) dan kapasitas jaringan internet sebanyak 25 gigabyte per second (GBPS) melalui satelit.

Skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) akan didorong pada tahun depan sebagai sumber pendanaan program-program infrastruktur nasional. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemangku kepentingan untuk kreatif dalam menciptakan skema pembiayaan infrastruktur.

Skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) akan didorong pada tahun depan sebagai sumber pendanaan program-program infrastruktur nasional. Menurutnya, dana program infrastruktur 2022 akan didapatkan salah satunya dengan cara bauran pendanaan atau blended finance.

"Skema KPBU akan menjadi model pembiayaan yang terus ditawarkan. Bauran pendanaan antara Kementerian/Lembaga, BUMN, dan swasta akan terus diperkuat," ucapnya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengindikasikan setidaknya akan ada 35 proyek infrastruktur berskema KPBU total investasi yang diserap dengan skema KPBU pada 2022 diprediksi setidaknya mencapai Rp239,5 triliun.

Namun demikian, KPBU yang disiapkan pada tahun depan hanya KPBU yang akan melakukan financial close selambatnya pada 2024.

Secara rinci, infrastruktur bidang jalan dan jembatan memiliki jumlah proyek dan nilai proyek terbanyak yakni 12 proyek senilai Rp143,52 triliun. Ke-12 proyek tersebut terdiri atas 11 proyek jalan tol dan 1 proyek jembatan.

Adapun, 7 proyek infrastruktur konektivitas tersebut memiliki estimasi investasi Rp86,62 triliun. Sementara itu, dalam tahap transaksi 3 proyek senilai Rp45,4 triliun di tahap studi bisnis dan 2 proyek senilai Rp11,5 triliun di tahap studi pendahuluan.

Adapun, 11 dari 12 proyek jalan dan jembatan yang dimaksud adalah jalan tol Pagatan—Batulicin, Singkawang—Mempawah, Batulicin—Tanah Grogot, Pejagan—Cilacap, Cilacap—Yogyakarta, Demak—Tuban, Ngawi—Bojonegoro—Babat, Pakuhaji—Bandara Soekarno Hatta, Kediri—Tulung Agung, jalan Trans-Papua, dan Jembatan Suramadu.

Di samping itu, setidaknya akan ada 10 proyek KPBU dalam membangun infrastruktur sumber daya air (SDA). Sejauh ini, baru 6 proyek dalam tahap transaksi yang baru memiliki estimasi investasi atau senilai Rp9,4 triliun. Tiga proyek yang dalam tahap studi bisnis dan satu proyek dalam studi pendahuluan masih dihitung estimasi investasinya.

Proyek KPBU infrastruktur SDA adalah Saluran Pembawa Air Baku (SPAB) Kedunglanggar, Kuwil, Sidan, Karian Barat, SIstem Penyediaan Air Minum (SPAM) Ayung I, Karian Barat, Daerah Irigasi Karangnongko, PLTM Bintang Bano, Bendungan Merangin, dan Bendungan Bodri.

Pada bidang infrastruktur permukiman, setidaknya akan ada 7 proyek KPBU dengan estimasi investasi hingga Rp24,3 triliun. Ketujuh proyek tersebut adalah Tempat Pemrosesan AKhir (TPA) Regional Magelang, SPAM Karian Serpong (sisi hilir), SPAM Batang, SPAM Regional Petanglong, SPAM Jatiluhur II, SPAM Regional Sarbagikung, dan PSEL Sarbagita.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

RAPBN pembiayaan infrastruktur
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top