Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Konstruksi Tol Serpong–Balaraja Molor, Ini Masalah yang Dihadapi Kementerian PUPR

Pembebasan lahan menjadi salah satu tantangan dalam konstruksi ruas tol tersebut. Persoalan itu juga menjadi penyebab molornya konstruksi tol yang telah dimulai sejak 2016 tersebut.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 Agustus 2021  |  14:46 WIB
Konstruksi Tol Serpong–Balaraja Molor, Ini Masalah yang Dihadapi Kementerian PUPR
Alat berat dioperasikan untuk pemadatan struktur tanah pembangunan ruas tol Serpong Balaraja (Serbaraja) seksi pertama Serpong - Legok dikawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (13/3). - Antara/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyampaikan sejumlah tantangan dalam mempercepat pengerjaan konstruksi Tol Serpong–Balaraja atau Serbaraja. Sebelumnya, Komisi V DPR RI juga telah meminta percepatan pengerjaan ruas tol tersebut untuk menghindari munculnya investor tanah dadakan.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Hedy Rahadian mengatakan bahwa pembebasan lahan menjadi salah satu tantangan dalam konstruksi ruas tol tersebut. Persoalan itu juga menjadi penyebab molornya konstruksi tol yang telah dimulai sejak 2016 tersebut.

“[Salah satu tantangan adalah] proses pembebasan lahan terkait fasilitas publik, seperti makam, kantor pemerintah, sarana ibadah, tower komunikasi, dan jalan desa,” katanya kepada Bisnis, Selasa (10/8/2021).

Hedy melanjutkan, masalah lainnya adalah desain struktur jembatan Sungai Cisadane. Menurutnya, tantangannya ada pada level pile cap jembatan yang berada di bawah dasar sungai, dan fluktuasi muka air yang sangat ekstrem.

Terakhir, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) ruas tersebut mengusulkan perubahan trase seksi 2 (Simpang Susun (SS) Legok–SS Pasir Barat) dan seksi 3 (SS Pasir Barat–Junction Balaraja) pada tol tersebut. BUJT pemilik konsesi ruas Serbaraja saat ini adalah PT Trans Bumi Serbaraja (TBS).

Pengubahan trase yang diajukan TBS akan mengubah total panjang kedua seksi tersebut dari sekitar 30 kilometer ke kisaran 24 kilometer.

Hedy berujar, pertimbangan usulan tersebut adalah titik pertemuan pada Junction Balaraja yang terhubung dengan jalan Tol Tangerang–Merak dan Jalan Tol Semanan–Balaraja bergeser, serta kondisi lingkungan yang padat.

“Usulan trase baru ini tidak sesuai dengan trase penetapan lokasi, dan saat ini sedang dievaluasi,” ucapnya.

Badan Pengatur Jalan Tol mendata, TBS baru membangun Tol Serbaraja seksi 1A sepanjang 5,15 kilometer yang terbagi menjadi tiga paket. Hingga Juli 2021, perkembangan konstruksi seksi 1A baru mencapai 34,9 persen.

Walaupun memiliki deviasi perkembangan konstruksi sebesar -10,61 persen, BPJT masih menjadwalkan pembangunan seksi 1A rampung pada Desember 2021.

Adapun, estimasi investasi yang tertanam pada tol sepanjang 5,15 kilometer tersebut mencapai Rp6,04 triliun dengan biaya pembebasan lahan mencapai Rp1,75 triliun.

Sebelumnya, Anggota Komisi V DPR Tubagus Haerul Jaman menambahkan, Tol Serbaraja dapat meningkatkan konektivitas dan ekonomi masyarakat Banten, Jakarta, dan sekitarnya.

Tol Serbaraja yang bakal terkoneksi dengan Tol Ulujami–Serpong akan mempersingkat waktu tempuh dari Serpong BSD menuju Jakarta dan Merak, sehingga meningkatkan layanan logistik kawasan Tangerang–Serang–Cilegon, serta pengembangan sisi barat Jakarta.

“Kami berharap pihak Tol Serbaraja juga dapat mengakomodir masyarakat sekitar untuk dapat meningkatkan ekonomi melalui produk UMKM di lokasi rest area sekitar tol Serbaraja,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tol serpong-balaraja jalan tol Kementerian PUPR
Editor : Lili Sunardi

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top