Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemendag: Harga Pangan Dunia Diperkirakan Mulai Stabil 2022

Indeks harga pangan FAO yang mencetak kenaikan bulanan tertinggi dalam 10 tahun terakhir sendiri dipicu oleh kenaikan kuat pada subindeks gula dan minyak nabati. Kemudian diikuti oleh kenaikan subindeks daging, serealia, dan produk susu pada tingkat yang lebih rendah.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 04 Juni 2021  |  17:22 WIB
suasana di salah satu super market di Jakarta, Rabu (9/9/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
suasana di salah satu super market di Jakarta, Rabu (9/9/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan menyebutkan harga produk pertanian akan naik pada 2021, dibandingkan dengan tahun lalu. Harga pangan diproyeksikan mulai stabil pada 2022 dan terus mengalami penurunan sampai 2030.

Jika merujuk pada laporan Bank Dunia, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan mengatakan kenaikan harga pada tahun ini tidak akan menyamai lonjakan yang terjadi pada 2018/2019. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi harga pangan dunia.

“Masih ada faktor ketidakpastian, yakni pandemi Covid-19 yang belum pasti kapan akan berakhir. Ada pula adjustment  dari stakeholder [produsen dan konsumen] selama dua tahun ini yang akan menjadi behaviour baru,” kata Kasan kepada Bisnis, Jumat (4/6/2021).

Harga rata-rata pangan dunia diperkirakan 14 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Indeks harga pangan FAO yang mencetak kenaikan bulanan tertinggi dalam 10 tahun terakhir sendiri dipicu oleh kenaikan kuat pada subindeks gula dan minyak nabati. Kemudian diikuti oleh kenaikan subindeks daging, serealia, dan produk susu pada tingkat yang lebih rendah.

Kasan mengatakan situasi harga pangan global selama pandemi setidaknya bisa berdampak pada tiga hal besar, yaitu gangguan rantai pasok dan distribusi, penurunan daya beli, dan ketidakstabilan harga pangan. Karena itu, lanjutnya, menjaga efisiensi rantai pasok, menjaga daya beli masyarakat, dan akselerasi pemanfaatan platform digital dalam rantai pasok menjadi segelintir antisipasi yang diambil pemerintah.

“Mengapa pemanfaatan platform digital penting? Pola konsumsi masyarakat Indonesia mulai bergeser dari beras dan makanan pokok ke makanan jadi. Perkiraan UN Division juga menunjukkan sebagian besar penduduk Indonesia akan hidup di perkotaan pada 2050,” papar Kasan.

Dia juga menyebutkan bahwa ekspektasi hidup dan urbanisasi yang meningkat bakal menambah aspek ketahanan pangan. Artinya, tidak hanya ketersediaan dan keterjangkauan yang memengaruhi, tetapi juga kualitas pangan.

Terpisah, Wakil Menteri Perdagangan periode 2011–2014 sekaligus ekonom pertanian dari IPB University Bayu Krisnamurthi memperkirakan bahwa harga pangan dunia akan mulai menurun pada semester kedua 2021 seiring dengan masuknya masa panen di berbagai negara produsen. Selain itu, dia pun menggarisbawahi perbedaan fluktuasi harga pangan saat ini dibandingkan dengan krisis-krisis sebelumnya.

“Kondisi harga sekarang tampaknya karena pada 2020 banyak aktivitas logistik terhenti sehingga stok di beberapa negara, terutama China turun drastis. Akibatnya mereka membeli dengan jumlah ekstra besar setelahnya,” kata Bayu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pangan kementerian perdagangan harga pangan
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top