Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Optimis Kuartal II/2021 Positif, Ini Sebabnya

Sebelumnya, optimisme di suarakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kuartal I/2021 akan menjadi kuartal terakhir bagi industri pengolahan nonmigas mengalami kontraksi.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 23 Mei 2021  |  14:21 WIB
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO - Fakhri Hermansyah
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). ANTARA FOTO - Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan dunia usaha optimistis kuartal II/2021 sektor manufaktur akan bangkit dari kontraksi dan mulai mencatatkan pertumbuhan positif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri pengolahan nonmigas kuartal I/2021 minus 0,71 persen. Namun secara kuartalan, angka itu sudah menunjukkan perbaikan dari kuartal IV/2020 yang minus 2,22 persen.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan dengan berbagai indikasi yang telah ada saat ini manufaktur akan bergerak lebih baik.

Salah satunya PMI April yang menunjukkan level ekspansif di posisi 54,6 dan diproyeksi akan berlanjut pada Mei karena merupakan periode konsumsi tinggi masyarakat dengan adanya Ramadan dan Lebaran.

"Kami optimis dan sepakat dengan proyeksi kuartal II/2021 industri akan mulai tumbuh positif," katanya kepada Bisnis, Minggu (23/5/2021).

Saat ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga tengah memprioritaskan sektor manufaktur sebagai penerima vaksin pada tahap awal program Gotong Royong. Selain itu, pekerja di kawasan Jabodetabek juga akan menjadi prioritas berdasarkan zonasi penyebaran Covid-19.

Sebelumnya, optimisme di suarakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kuartal I/2021 akan menjadi kuartal terakhir bagi industri pengolahan non-migas mengalami kontraksi.

Sebelumnya, Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2021 akan mengalami penyusutan menjadi US$660 juta, dari bulan sebelumnya sebesar US$1,57 miliar. David mengatakan, penyusutan neraca dagang tersebut disebabkan oleh kinerja impor yang lebih tinggi dari ekspor pada April 2021.

Menurutnya, impor secara tahunan (year-on-year/yoy) akan tumbuh sebesar 33,6 persen, sementara secara bulanan meningkat sebesar 6 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh aktivitas impor bahan baku nonmigas yang relatif tinggi.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan sebelumnya, yang mana tercatat tumbuh hingga 37 persen hingga Maret 2021. David mengatakan, peningkatan impor, terutama untuk bahan baku, merupakan pertanda baik bagi aktivitas perekonomian domestik.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kadin pemulihan ekonomi
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top