Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Besok BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I/2021, Ini Proyeksi Ekonom

Ekonom Senior Narasi Institute Fadhil Hasan juga memperkirakan ekonomi pada kuartal I/2021 masih akan tercatat negatif. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih negatif, yakni antara -1,5 persen sampai -0,5 persen.
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (9/2/2021). Bisnis/Arief Hermawan P
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (9/2/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2021 pada Rabu, 4 Mei 2021.

Sebagaimana diketahui, ekonomi Indonesia pada tahun lalu mengalami kontraksi pertumbuhan yang pertama kali sejak krisis 1998, dengan kontraksi yang mencapai -2,07 persen.

Pukulan yang berat akibat pandemi Covid-19 membuat ekonomi Indonesia terkontraksi sangat dalam pada kuartal II/2020 hingga mencapai -5,32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kontraksi berlanjut pada kuartal III/2020 yang tercatat sebesar -3,49 persen yoy dan membawa ekonomi Indonesia masuk dalam fase resesi. Pada kuartal IV/2020 pun, ekonomi masih terkontraksi sebesar -2,19 persen yoy.

Ekonom memperkirakan, ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2021 masih akan berada pada fase resesi. Artinya, pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut masih akan tercatat negatif.

“BPS akan mengumumkan produk domestik bruto [PDB) kuartal I/2021 pada 5 Mei, yang mana berdasarkan perhitungan kami masih akan terkontraksi -1,63 persen yoy,” kata Kepala Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana.

Menurutnya, berdasarkan data BPS terbaru, di mana laju inflasi pada Maret 2021 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan, masih menunjukkan kegiatan ekonomi belum kembali normal seperti sebelum terjadi pandemi Covid-19.

Di samping itu, Ekonom Senior Narasi Institute Fadhil Hasan juga memperkirakan ekonomi pada kuartal I/2021 masih akan tercatat negatif.

“Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih negatif, yakni antara -1,5 persen sampai -0,5 persen,” katanya.

Fadhil mengatakan, salah satu indikator yang menunjukkan ekonomi Indonesia belum keluar dari resesi yaitu negatifnya pertumbuhan kredit perbankan, bahkan hingga Maret 2021 masih tercatat -3,7 persen yoy.

Selain itu, konsumsi domestik masih belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, padahal sektor ini merupakan penyumbang terbesar dalam PDB Indonesia.

“Perbaikan indikator konsumsi belum memadai dan cukup kuat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” jelasnya.

Di sisi lain, beberapa indikator telah menunjukkan perkembangan yang positif, di antaranya kinerja ekspor terus mengalami perbaikan sehingga Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dalam beberapa bulan terakhir.

Investasi pun mengalami perbaikan sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan PMI Manufaktur hingga ke level 53 dan impor bahan baku yang juga meningkat 26,4 persen pada Maret 2021.

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I/202i akan berada pada kisaran -0,5 hingga -1 persen.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan hal ini dikarenakan konsumsi rumah tangga yang merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi masih belum pulih dari pandemi Covid-19.

"Kalau kita lihat dalam 4 bulan terakhir di 2021, kita prediksikan Kuartal I/2021 pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran negatif, masih kontraksi tapi sudah jauh lebih tipis yaitu -1 sampai dengan -0,5 persen,” katanya.

Faisal menyampaikan, beberapa indikator yang mendukung prediksi tersebut adalah kinerja penjualan eceran yang masih terkontraksi pada kuartal I/2021.

Di samping itu, inflasi inti yang mencerminkan penawaran dan permintaan juga masih tertekan hingga Maret 2021. Indikator lainnya, indeks keyakinan konsumen (IKK) pada periode yang sama juga masih dalam level yang pesimis.

Namun, Faisal memperkirakan ekonomi Indonesia akan mencatatkan pertumbuhan yang positif pada kuartal II/2021, dengan kisaran proyeksi 4 persen hingga 5 persen.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper