Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tanpa Subsidi Ongkir Pemerintah, Nilai Belanja Online Tetap Bisa Naik

Selama pandemi Covid-19, lebih banyak masyarakat yang berbelanja secara daring.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 30 April 2021  |  20:46 WIB
Ilustrasi belanja online. / istimewa
Ilustrasi belanja online. / istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai dan volume transaksi belanja daring melalui platform e-commerce diyakini tetap bisa tumbuh meskipun tidak ada subsidi ongkos kirim oleh pemerintah.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan diskon ongkos kirim dan tawaran diskon produk sudah cukup memantik minat berbelanja konsumen selama Ramadan dan Idulfitri. Terlebih, lebih banyak masyarakat yang berbelanja secara daring sejak pandemi melanda.

“Kalau kita lihat sejak tahun lalu, meski tanpa subsidi ongkir pun jumlah masyarakat yang menggunakan e-commerce sudah meningkat. Terlebih dengan adanya THR di ASN maupun swasta, saya kira momentum tetap ada karena pemulihan ekonomi juga lebih baik dari pada tahun lalu,” kata Rendy, Jumat (30/4/2021).

Data Bank Indonesia menunjukkan ada kenaikan volume transaksi e-commerce sampai 99 persen pada kuartal I/2021. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, volume transaksi meningkat dari 276 juta menjadi 548 juta transaksi. Selain itu, nilai transaksi tercatat naik 52 persen menjadi Rp88 triliun.

Rendy menilai tingkat animo konsumen dalam berbelanja akan dipengaruhi pula pada seberapa luas cakupan diskon ongkos kirim yang ditawarkan. Sebagaimana diketahui, lebih dari 80 persen transaksi dagang-el disumbang oleh kawasan Jabodetabek.

E-commerce sejauh ini tetap gencar memberikan promosi dan masyarakat jauh lebih terbiasa memanfaatkan fasilitas belanja daring. Jika cakupannya luas, ini juga berpengaruh,” lanjutnya.

Meski demikian, Rendy menyebutkan pemerintah harus tetap memberikan dukungan lebih kepada pelaku usaha, terutama kepada usaha berskala mikro, kecil, dan menengah yang belum terdigitalisasi penjualannya.

“Sosialisasi dan edukasi yang ditawarkan pemerintah juga perlu disiapkan dalam bentuk pendampingan kepada UMKM yang belum familiar terhadap  e-commerce. Saya kira masih banyak yang belum paham. Akan sangat disayangkan kalau ada momentum, tetapi ada yang tidak ikut,” kata dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce Ramadan KPCPEN
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top