Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asyik, Izin Ekspor Kini Hanya Perlu Waktu 8 Jam

Para eksportir kini bisa bernapas lega karena pemerintah telah resmi mengeluarkan relaksasi kebijakan yang mempercepat keluarnya izin ekspor hanya dalam waktu 8 jam.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 15 April 2021  |  19:56 WIB
Pelabuhan Tarempa di Anambas merupakan salah satu pintu ekspor Kepulauan Riau. - Antara
Pelabuhan Tarempa di Anambas merupakan salah satu pintu ekspor Kepulauan Riau. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Para eksportir kini bisa bernapas lega karena pemerintah telah resmi mengeluarkan relaksasi kebijakan yang mempercepat keluarnya izin ekspor hanya dalam waktu 8 jam.

Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kementerian Perdagangan Luther Palimbong mengatakan relaksasi kebijakan ini dikeluarkan untuk mempermudah pelaku usaha sehingga tidak terbebani dengan perizinan saat melakukan proses eksportir.

"Bapak Menteri sudah menandatangani terkait persetujuan ekspor hanya dalam waktu 8 jam. Ini ada beberapa tapi pendekatannya kepada perusahaan, jika perusahaan itu baik, bayar royalti dan pajak maka kita berikan kemudahan dalam perizinan hanya dalam 8 jam sehingga tidak ada lagi pengusaha yang mengeluh soal perizinan,” ujar Luther keterangan yang diterima Bisnis, Kamis (15/4/2021).

Menurutnya, pada 2020 ketika Covid-19 mulai menyebar, neraca ekspor Indonesia hanya turun 2,61 persen. Sejumlah kalangan memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh  3,3 persen dan bisa terus meningkat pada tahun ini.

“Ekspor Indonesia mengalami tren yang positif di dekade terakhir 2020, ekspor kembali meningkat pada di November-Desember bahkan melebihi di tahun-tahun sebelumnya. Sektor yang mengalami kenaikan ekspor terbesar di 2020 secara nilai adalah besi baja, perhiasan, lemak nabati, dan lain-lain,” ucapnya dalam webinar yang diselenggarakan Katadata.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan ekonomi global akan meningkat secara signifikan yang dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dua negara  tujuan utama ekspor Indonesia.

“Ini peluang sangat bagus bagi sumber pertumbuhan industri manufaktur Indonesia kalau kita sangat kompetitif. Beberapa poin positif tadi, kami memperkirakan pertumbuhan Indonesia dari sisi GDP akan kembali ke 3,3 persen dari kontraksi minus 2,93 persen,” jelas Andry.

Perencana Ahli Madya, Kementerian Perindustrian Mangasi Parsaoran Siahaan menyebutkan penerapan industri 4.0 diharapkan membuat kontribusi ekspor terhadap PDB meningkat, dan akan sesuai dengan target RPJMN. Bahkan diharapkan bisa mencapai kenaikan lebih dari 30 persen.

“Selama ini dengan biaya yang ada kita harapkan akan ada peningkatan biaya kembali. Biaya yang ada kita gunakan untuk meningkatkan tenaga kerja dan produktivitas. Dari hasil itu kita terapkan ke industri 4.0 dengan output dan input yang ada, kami akan menghasilkan output dua kali lipat,” tuturnya.

Meski industri manufaktur Indonesia mendapat titik terang setelah pandemi, tetapi masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi seperti regulasi dan kesiapan sumber daya manusia. Andry Asmoro mengungkapkan untuk mencontoh Vietnam yang lebih terstruktur dalam mengolah industri manufaktur.

“Dari segi indikator infrastruktur, regulasi, dan kesiapan SDM industri kita bisa dikatakan less productive dibanding negara lainnya. Dari situ kita lebih di bawah dari Vietnam, bagaimana kesiapan mereka dalam memanfaatkan kerjasama perdagangan selama ini. Jadi kita akan memperbaiki hal-hal tersebut,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor perizinan usaha
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top