Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha: Ekspansi Pabrikan Anytime, Gampang!

Wakil Ketua Bidang Industri Kadin Johnny Darmawan menyebut kemungkinan besar proyeksi Bank Indonesia tersebut karena secara historis permintaan pada periode Lebaran naik.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 14 April 2021  |  22:40 WIB
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019).  - Antara Foto/Fakhri Hermansyah
Petugas beraktivitas di pabrik pembuatan baja Kawasan Industri Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/10/2019). - Antara Foto/Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan pelaku usaha optimistis dengan ramalan Bank Indonesia yang menyebut kinerja industri pengolahan akan lebih ekspansif di level 55,25 persen pada kuartal II/2021, setelah mencapai level 50,01 pada kuartal I/2021.

Wakil Ketua Bidang Industri Kadin Johnny Darmawan menyebut kemungkinan besar proyeksi Bank Indonesia tersebut karena secara historis permintaan pada periode Lebaran naik. Selain itu ditambah pula dengan pemerintah sudah memberi berbagai insentif seperti pembelian mobil, rumah, dan lainnya. Belum lagi, tidak adanya mudik tahun ini akan membuat pabrik terus bekerja.

"Meski di sini perlu diwaspadai karena tidak ada mudik artinya pendistribusian tidak akan merata tetapi kalau pabrikan dengan kapasitas saat ini yang masih 60-70 persen, anytime mau dinaikkan gampang-gampang saja," katanya kepada Bisnis, Rabu (14/4/2021).

Johnny mengemukakan pada prinsipnya dalam perhitungan ekspansi ada tiga indikator yakni produksi pabrik meningkat, penyerapan pasar, dan stok yang mengecil. Oleh karena itu, jika turut merujuk Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Maret tercatat sebesar 53,2 atau tertinggi dalam satu dekade maka proyeksi BI cukup masuk akal.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani sebelumnya juga menilai kemungkinan peningkatan level produksi pada kuartal I/2021 lalu karena sudah masuk momentum Ramadan, di mana setiap tahun menjadi periode peningkatan konsumsi di pasar domestik.

Apalagi, lanjut Shinta, sampai Lebaran nanti Pemerintah mengagendakan pencairan bansos untuk kompensasi kebijakan larangan mudik.

"Kedua momentum tersebut sangat positif memicu peningkatan konsumsi masyarakat. Oleh karena itu meskipun bahan baku mahal, produksi tetap dikejar untuk memaksimalkan momentum penciptaan revenue bagi perusahaan," katanya.

Shinta mengemukakan dengan demikian cukup wajar bila perusahaan manufaktur cukup percaya diri untuk meningkatkan produksi pada Maret hingga April ini guna mengejar momentum konsumsi yang masih ada sampai lebaran.

Namun, Shinta mewanti-wanti setelah Lebaran biasanya akan turun lagi. Oleh karena itu, pihaknya berharap ada pendorong lain yang sifatnya non-konsumsi seperti pengendalian pandemi dan normalisasi kegiatan ekonomi, implementasi UU Cipta Kerja, hingga peningkatan ekspor dan investasi yang bisa memicu peningkatan kegiatan ekonomi produktif.

"Pentingnya dorongan yang bisa digerakkan pasca lebaran agar pertumbuhan ekonomi tidak menyusut terlalu dalam pasca lebaran dan tetap dalam trajectory pemulihan ekonomi yang baik," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kadin indeks manufaktur
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top