Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor China Melesat, Impor Tertinggi dalam Empat Tahun

Negeri Tirai Bambu mencatat surplus perdagangan senilai US$13,8 miliar pada Maret.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 13 April 2021  |  19:55 WIB
Pekerja berada di depan peti kemas yang ditumpuk di Pelabuhan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\n
Pekerja berada di depan peti kemas yang ditumpuk di Pelabuhan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor China tumbuh secara cepat pada Maret dan mendorong pemulihan ekonomi negara tersebut, seiring dengan permintaan global yang meningkat di tengah bergulirnya upaya vaksinasi di seluruh dunia. Pada waktu yang sama, impor juga meningkat hingga mencapai level tertinggi selama empat tahun.

Dilansir dari channelnewsasia.com, Selasa (13/4/2021), data memperkuat tanda-tanda momentum pertumbuhan ekonomi kedua terbesar di dunia sambil bangkit dari kemerosotan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 pada 2020.

Ekspor melonjak, dalam dolar, sebesar 30,6 persen pada Maret, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tapi dalam kecepatan yang lebih lambat dari Februari yaitu sebesar 154,9 persen. Para analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan lonjakan sebesar 35,5 persen dalam pengiriman.

Sementara, impor meningkat 38,1 persen (year-on-year/yoy) pada bulan sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak Februari 2017. Peningkatan tersebut lebih tinggi dari proyeksi sebesar 23,3 persen dan dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 17,3 persen pada Februari.

Negeri Tirai Bambu mencatat surplus perdagangan senilai US$13,8 miliar pada Maret, dibandingkan dengan perkiraan analis terkait dengan surplus yang melonjak sebesar US$52,05 miliar dari US$37,88 miliar pada Februari.

Meskipun kasus Covid-19 menyebar secara sporadis di kota-kota perbatasan China, otoritas negeri tersebut mampu menahan laju virus. Hal tersebut menyebabkan aktivitas pabrik dapat kembali melakukan produksi secara bertahap dan bergerak ke level sebelum pandemi.

Hal tersebut telah membantu perekonomian untuk melakukan perputaran yang cepat dari kemerosotan pada awal 2020, didorong oleh kembali beraktivitasnya sektor manufaktur dalam memenuhi permintaan luar negeri sehingga membangkitkan pertumbuhan eskpor.

Permintaan global terhadap komoditas dari China bertahan kuat saat pemulihan ekonomi dunia terus berlanjut, berkat upaya vaksinasi.

Produk domestik bruto (PDB) China, sebagai satu-satunya negara dengan perekonomian terbesar yang mencatat pertumbuhan pada 2020, bertambah 2,3 persen dari tahun sebelumnya karena didasari oleh permintaan yang kuat terhadap komoditas seperti peralatan untuk kebutuhan media dan kerja jarak jauh (work from home/WFH).

Walaupun begitu, pandemi Covid-19 tetap mengakibatkan pertumbuhan ekonomi China menjadi yang terlemah dalam kurun 44 tahun.

Tahun ini, China telah menetapkan target pertumbuhan yang rendah setidaknya 6 persen sesuai dengan rencana pemerintah. Mereka belajar secara hati-hati dari pengalaman setahun disrupsi yang disebabkan oleh Covid-19 dan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).

Surplus perdagangan China dengan AS jatuh ke angka US$21,37 miliar pada Maret dari sebesar US$23,01 miliar di bulan sebelumnya.

Presiden AS Joe Biden mengatakan pada bulan sebelumnya, bahwa AS tidak akan melakukan konfrontasi dengan China atas selisih yang disebabkan oleh perdagangan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor impor china ekonomi china

Sumber : Channel News Asia

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top