Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Malaysia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021

Prospek yang lebih rendah muncul setelah kasus virus memuncak pada Januari, memaksa pembatasan baru pada perjalanan yang membebani pemulihan ekonomi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 31 Maret 2021  |  10:55 WIB
Bank Negara Malaysia - alumni.bnm.gov.my
Bank Negara Malaysia - alumni.bnm.gov.my

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral Malaysia memperkirakan ekonomi akan tumbuh lebih lambat dari perkiraan awal tahun ini dan berjanji untuk menjaga kebijakan moneter akomodatif karena negara memetakan pemulihan dari pandemi.

Produk domestik bruto diperkirakan meningkat sebanyak 6 persen menjadi 7,5 persen tahun ini, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar 6,5 persen hingga 7,5 persen.

Prospek yang lebih rendah muncul setelah kasus virus memuncak pada Januari, memaksa pembatasan baru pada perjalanan yang membebani pemulihan ekonomi. Pemerintah telah mengurangi langkah-langkah tersebut karena tingkat infeksi melambat dan peluncuran vaksin negara itu akan memasuki fase kedua bulan depan.

"Bahkan ketika ekonomi pulih dari pandemi, kami belum sepenuhnya keluar dari masalah," kata Gubernur Bank Negara Malaysia Nor Shamsiah Yunus dalam laporan tahunan, dilansir Bloomberg, Rabu (31/3/2021).

Mengingat ketidakpastian dalam kekuatan pemulihan ekonomi ini, dorongan kebijakan moneter Malaysia pada 2021 akan tetap akomodatif untuk mendukung pemulihan yang mengakar dan berkelanjutan.

Menurut laporan tahunan itu, penilaian kebijakan moneter akan tetap berdasarkan data, sementara operasi akan terus diarahkan untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar valuta asing, obligasi dan uang. Bank sentral menahan suku bunga acuan pada level terendah sepanjang masa awal bulan ini di tengah tanda-tanda ekonomi akan berbelok.

Sebelumnya, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin meluncurkan paket 20 miliar ringgit (US$4,8 miliar) awal bulan ini yang termasuk potongan untuk tagihan listrik, keringanan pajak, dan bantuan tunai kepada orang miskin.

Stimulus itu menyusul bantuan senilai 15 miliar ringgit yang diumumkan pada Januari setelah negara itu mengumumkan keadaan darurat untuk membantu mengekang penyebaran Covid.

PDB riil rata-rata Malaysia mungkin telah berkontraksi 3 persen pada Januari dari tahun lalu, lebih buruk daripada pada Desember. PDB riil mungkin telah menyusut lebih jauh pada Februari sebelum membaik pada Maret.

Perekonomian mengalami kontraksi 5,6 persen pada 2020, kinerja terburuk sejak 1998 dan di bawah proyeksi pemerintah -3,5 persen hingga -5,5 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia bank negara malaysia ekonomi malaysia

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top