Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obat Herbal Sulit Berkembang, GP Jamu Bilang Karena Ongkos Riset

Setidaknya hanya untuk menuntaskan uji klinis, obat fotofarmakan membutuhkan ongkos sekitar Rp4 miliar. Padahal potensi pengembangan obat ini cukup prospektif. 
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  20:20 WIB
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pemekatan ekstrak saat penelitian obat herbal untuk penyembuhan Covid-19 di Laboratoirum Cara Pembuatan Obat Tradisional Baik (CPOTB) Pusat Penelitian Kimia LIPI, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (6/5/2020). ANTARA - Muhammad Iqbal
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pemekatan ekstrak saat penelitian obat herbal untuk penyembuhan Covid-19 di Laboratoirum Cara Pembuatan Obat Tradisional Baik (CPOTB) Pusat Penelitian Kimia LIPI, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (6/5/2020). ANTARA - Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri jamu menilai obat herbal yang telah terbukti aman dan berkhasiat untuk manusia atau fitofarmaka sulit berkembang karena membutuhkan dana uji klinis yang mahal.

Setidaknya hanya untuk menuntaskan uji klinis, obat fotofarmakan membutuhkan ongkos sekitar Rp4 miliar. Padahal potensi pengembangan obat ini cukup prospektif. 

"Jadi, cost produksi ini lebih mahal dibanding obat lain dan tak jarang membuat harganya lebih mahal walau ada juga yang murah," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Dwi Ranny Pertiwi dalam sebuah webinar, Selasa (23/3/2021).

Ranny mengira dengan mempertimbangkan ongkos tersebut tentunya membuat pemerintah kembali berhitung karena nantinya harus melakukan pengembalian harga.

Meski demikian, Ranny menyebut GP Jamu juga terus mendesak pemerintah meloloskan produk fitofarmaka dalam fornas. Hal itu mengingat jika ada efek samping yang ditimbulkan maka sangat kecil ketimbang efek samping obat kimia.

"Kami sangat getol dalam hal ini," ujarnya. 

Fornas atau formularium nasional adalah daftar obat yang disusun oleh komite nasional yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Daftar ini disusun berdasarkan pada bukti ilmiah mutakhir berkhasiat, aman, dan dengan harga yang terjangkau yang disediakan serta digunakan sebagai acuan penggunaan obat dalam Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN.

Sebelumnya, BPOM mencatat Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan maupun sumber daya laut dan sekitar 9.600 spesies tanaman dan hewan telah teridentifikasi memiliki khasiat obat.

Namun, hingga saat ini baru ada 62 OHT (obat herbal terstandar) dan 24 fitofarmaka yang terdaftar di BPOM.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini menilai untuk mendorong industri obat herbal yang paling logis adalah pemerintah membeli produk tersebut melalui asuransi BPJS Kesehatan, seperti yang dilakukan India, China, Jepang, dan Taiwan.

"Jadi semoga kedepan obat herbal dapat dimasukkan ke dalam program JKN [Jaminan Kesehatan Nasional]," ujarnya. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur farmasi obat herbal Industri Obat
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top