Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ironis! Bank Banjir Likuditas, Industri TPT Sulit Dapat Kredit

Asosiasi TPT mengusulkan adanya kemudahan Pinjaman Modal kerja dan discount rate pinjaman yang sedang berjalan untuk mengungkit keterpurukan industri.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 04 Maret 2021  |  18:05 WIB
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Dunia usaha kembali menyayangkan lembaga perbankan yang saat ini tercatat memiliki likuiditas yang melimpah tetapi sulit sekali mengucurkan kredit, utamanya modal kerja.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan masyarakat pada 109 bank umum per Desember 2020 mengalami kenaikan sebesar 10,86 persen (yoy) dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya menjadi Rp6.737 triliun atau tumbuh 0,53% (mom) dari bulan sebelumnya.

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Suharno Rusdi mengatakan saat ini ada suatu hal yang ironis di mana kondisi perbankan sekarang yang sedang kelebihan likuiditas tetapi kenyataan di lapangan, pengucuran pinjaman ke industri khususnya Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) mengalami hambatan.

"Mungkin pihak perbankan masih sangat berhati-hati dan mencermati keadaan pandemi sekarang. Ini yang oleh Menko Perekonomian dijanjikan akan dilakukan pertemuan dengan pihak perbankan untuk mencari solusisnya, termasuk discount rate dan sebagainya. Kami sekarang menunggu realisasi apa yang dijanjikan pada rapat bersama tersebut," katanya kepada Bisnis, Kamis (4/3/2021).

Pertemuan yang dimaksud Suharno tersebut terjadi pada 18 Februari 2021 lalu, IKATSI kala itu bersama API mengusulkan sejumlah instrumen untuk pemulihan industri TPT yang tertekan akibat pandemi Covid-19.

Instrumen itu di antaranya, relaksasi PPN produk TPT paling tidak sebesar 5 persen dari 10 persen yang sekarang berlaku. Dengan pemotongan PPN produk TPT sebesar 5 persen diharapkan akan mendorong daya beli mayarakat terhadap produk TPT pada Ramadan dan Lebaran dua bulan ke depan.

Selain itu, Asosiasi TPT juga mengusulkan adanya kemudahan Pinjaman Modal kerja dan discount rate pinjaman yang sedang berjalan untuk mengungkit keterpurukan industri.

Suharno menyebut bunga pinjaman modal kerja (PMK) untuk korporasi yang sekarang berkisar 8,75-8,88 persen dinilai cukup memberatkan. Terutama ketika daya beli masyarakat sedang merosot.

"Menurut hitungan saya, ketika bunga acuan Bank Indonesia di angka 3,5 persen, dalam kondisi sekarang bunga pinjaman modal kerja untuk korporasi idealnya di angka 6,5-7,5 persen. Angka ini akan fair untuk semua pihak baik pihak perbankan maupun pihak industri. Saya rasa bunga pinjaman tidak akan bisa lebih rendah dari angka 6 persen, mengingat bunga sukuk sekarang di angka sekitar 5,5 persen," ujarnya.

Suharno menambahkan dalam konsdisi sulit seperti sekarang, pedangan besar rata-rata akan membayar dengan tempo, sementara pemasok bahan baku maunya dibayar tunai. Dengan demikian cashflow sedang berputar dengan berat. Di situlah kucuran pinjaman modal kerja diperlukan pihak industri.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kredit simpanan perbankan industri tpt
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top