Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jalur Pelayaran Baru Jadi Alternatif Pengiriman Barang

Supply Chain Indonesia (SCI) menilai pembukaan jalur-jalur pelayaran baru dapat menjadi alternatif pengiriman barang di Indonesia.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 17 Februari 2021  |  06:54 WIB
Sebuah Kapal Motor Penumpang (KMP) bermuatan kendaraan bermotor dan penumpang menyeberangi Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (15/5/2019). - ANTARA/Jessica Helena Wuysang
Sebuah Kapal Motor Penumpang (KMP) bermuatan kendaraan bermotor dan penumpang menyeberangi Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (15/5/2019). - ANTARA/Jessica Helena Wuysang

Bisnis.com, JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) mengapresiasi pembukaan jalur-jalur penyeberangan baru seperti yang dilakukan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan perusahaan swasta.

Chairman SCI Setijadi mengatakan ASDP membuka tiga rute pelayaran feri jarak jauh (long distance ferry/LDF) pada Januari 2021. Ketiga rute itu yaitu Patimban–Panjang, Patimban–Pontianak, dan Patimban–Banjarmasin.

"Selain oleh perusahaan BUMN, jalur pelayaran baru juga dibuka oleh perusahaan swasta yaitu SPIL [PT Salam Pacific Indonesia Lines] yang membuka rute langsung Jakarta-Bangka mulai 4 Februari lalu. Bangka menjadi cabang ke-42 perusahaan itu," katanya dalam siaran pers yang dikutip, Rabu (17/2/2021).

Dari sisi angkutan logistik, Setijadi menyebut pembukaan jalur-jalur pelayaran baru itu dapat menjadi alternatif pengiriman barang antar wilayah di Indonesia yang dapat lebih menjamin ketersediaan stok dan mengurangi disparitas harga barang/komoditas, serta efisiensi pengiriman bahan baku dan produk industri.

"Meski begitu, perlu adanya integrasi transportasi laut, proses kepelabuhanan, dan transportasi kbb-nya. Para pengguna akan mempertimbangkan efisiensi transportasi secara end-to-end," jelas dia.

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari Pelni dan INSA, transportasi laut hanya berkontribusi sekitar 19 persen. Sementara biaya kepelabuhanan sekitar 31 persen dan transportasi hinterland sekitar 50 persen.

Dari segi kontribusi imbuhnya, kontribusi angkutan laut terhadap PDB 2020 masih kecil, yaitu sebesar Rp48.614,8 miliar atau 8,7 persen dari total PDB angkutan sebesar Rp558.069 miliar.

Dia memerinci kontributor tertinggi terhadap PDB angkutan masih dari angkutan darat (68,3 persen) yang diikuti angkutan udara (18,8 persen). Sementara, dua angkutan lainnya memberikan kontribusi yang lebih kecil dari angkutan laut, yaitu angkutan sungai, danau, dan penyeberangan sebesar 2,8 persen dan angkutan rel sebesar 1,4 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelayaran
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top