Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ada Diskon Pajak Mobil, Industri Ban Pilih Realistis

Kado awal tahun dari pemerintah berupa pemberian diskon pajak mobil baru nyatanya tak membuat seluruh pihak antusias dan menyambut gembira. Jika industri komponen masih tak optimistis, industri ban menyuarakan hal serupa.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 15 Februari 2021  |  02:00 WIB
Ada Diskon Pajak Mobil, Industri Ban Pilih Realistis
Ban Mobil. kesulitan industri ban tak hanya dihadapi produsen lokal tetapi juga pabrikan di seluruh dunia. - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kado awal tahun dari pemerintah berupa pemberian diskon pajak mobil baru nyatanya tak membuat seluruh pihak antusias dan menyambut gembira. Jika industri komponen masih tak optimistis, industri ban menyuarakan hal serupa.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) Azis Pane menilai hal itu juga tidak akan disambut antusias oleh masyarakat. Di tengah daya beli yang terhimpit saat ini masyarakat tentu lebih memilih memikirkan cara bertahan hidup dan membatasi diri keuar rumah.

"Saya kemarin ke toko-toko ban, mereka bilang sepi kali sekarang bisanya sehari bisa 100-200 menjual sekarang 10.000 seminggu saja susah," katanya kepada Bisnis, Minggu (14/2/2021).

Belum lagi, Azis menyebut efek psikologis dari Covid-19 ini sangat besar dan membutuhkan sentuhan supaya kembali menggerakkan konsumsi masyarakat. Pasalnya untuk sekadar mengganti ban yang botak orang akan berpikir dua kali tidak seperti saat mobilitas berjalan normal.

Menurut Azis, kendati kini di level produksi terjadi peningkatan, sejumlah kondisi pertahanan pun tak dapat dielakkan. Seperti pengurangan karyawan, percepatan pensiun dini karyawan, dan paling utama efisieni usaha.

"Maret tahun lalu utilisasi kami 40 persen di Oktober sampai saat ini ada kenaikan 65 persen tetapi kenaikan membuat kami tidak bisa lari dari kenyataan karena order lambat seperti dari produksi 100 ban, permintaannya hanya 40 ban. Belum lagi bahan baku yang sulit dan ekspor yang mengalami kendala kontainer," ujar Azis.

Dia pun menyebut kesulitan industri ban tak hanya datang dari produsen lokal tetapi juga dari seluruh dunia. Untuk itu, proyeksi kondisi membaik Azis perkirakan akan terjadi mulai Maret tahun depan atau 2022. Meski, kemungkinan percepatan juga ada yakni dari kondisi Lebaran nanti.

Menurut Azis, jika Lebaran masyarakat sudah mulai bergairah berbelanja kemungkinan pemulihan lebih cepat akan terjadi tetapi jika Lebaran hanya akan berlalu seperti Imlek yang sepi kemarin mau tidak mau pengusaha akan tetap realistis dalam menjalankan usahanya.

Sisi lain, pemerintah saat ini masih memiliki regulasi yang dianggap pro importir umum yang cukup merugikan importir produsen dalam negeri.

"Kemarin SNI wajib bead wire diperiksa kepabeanan sekarang baru saja ada surat edaran dari Kemenperin yang menyebut persetujuan standar produk ban impor tidak bisa lagi secara elektronik. Lah ini kan Covid-19 kami mau sertifikasi tidak bisa ini ngeri malah bikin ban nasional terpuruk," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik ban Pajak Mobil
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top