Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stok Tak Terserap, Harga Telur di Peternak Anjlok

Harga telur di tingkat kandang dipatok Rp16.000 sampai Rp17.000 per kg. Harga ini berada di bawah biaya produksi yang mencapai Rp19.000 sampai Rp20.000 per kg.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 25 Januari 2021  |  16:25 WIB
Pedagang menata telur di Pasar Benhil, Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pedagang menata telur di Pasar Benhil, Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Harga telur ayam ras dikabarkan anjlok di bawah biaya pokok produksi di Pulau Jawa menyusul rendahnya serapan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Kalangan peternak menyebutkan minimnya serapan menyebabkan penumpukan stok di kandang. 

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Musbar Mesdi menjelaskan harga telur di tingkat kandang dipatok Rp16.000 sampai Rp17.000 per kg. Harga ini berada di bawah biaya produksi yang mencapai Rp19.000 sampai Rp20.000 per kg.

“Pembatasan di DKI Jakarta dan Jawa Barat sangat berpengaruh ke serapan, akibatnya telur-telur tidak bisa keluar kandang,” kata Musbar saat dihubungi, Senin (25/1/2021).

Data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menunjukkan harga telur di berbagai wilayah di Pulau Jawa per 23 Januari 2021 berkisar di Rp17.000 sampai Rp19.000 per kg. Harga ini lebih rendah dibandingkan dengan harga awal Januari yang masih di kisaran Rp19.000 sampai Rp21.000 per kg.

“Sebenarnya harga turun setelah Natal dan Tahun Baru lumrah, hanya saja sekarang diperburuk dengan PSBB dan kenaikan harga pakan,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, kenaikan harga kedelai yang terjadi belakangan turut memengaruhi harga pakan mengingat bungkil kedelai (soybean meal) merupakan salah satu bahan baku produk ini.

Musbar pun mengatakan pasokan yang melimpah ini tidak bisa langsung diselesaikan dengan melakukan afkir dini pada ayam petelur. Dia menjelaskan afkir dini pada ayam layer tetap sulit direalisasikan karena tidak terserap optimal. Umumnya, ayam afkir diserap oleh UMKM yang menjual makanan.

“Biasanya yang menyerap warung soto, rumah makan, hanya saja selama pandemi serapan dari sana sedikit,” kata dia.

Karena itu, Musbar mengatakan kalangan peternak dan Kementerian Perdagangan serta Badan Ketahanan Pangan (BKP) sepakat untuk solusi jangka pendek dalam menyelesaikan masalah ini.

Musbar mengatakan pemasaran telur akan difokuskan ke pos-pos penjualan sembako di daerah yang bekerja sama dengan Divre Bulog.

Penurunan harga telur di tingkat produsen ini sedikit berubah dari proyeksi BKP. Sebelumnya, proyeksi BKP menunjukkan harga telur di tingkat produsen mencapai level tertinggi di kisaran Rp25.000 per kg pada minggu terakhir Desember 2020 yang diikuti dengan kenaikan harga di tingkat eceran menjadi Rp28.000 per kg. 

Harga di tingkat produsen diperkirakan akan mulai turun, tetapi masih di kisaran Rp23.000 sampai Rp24.000 per kg pada awal Januari. Data BKP menunjukkan harga akan bertahan di kisaran Rp20.000 sampai Rp23.000 per kilogram sampai Maret 2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pakan ternak telur ayam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top