Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Gagal Penuhi Target Perjanjian Dagang Fase 1 dengan AS

Perjanjian dagang fase 1 merupakan upaya kedua negara untuk mereda tensi perang dagang antara kedua negara yang memicu pengenaan tarif terhadap barang-barang China di AS.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 24 Januari 2021  |  10:38 WIB
Suasana di salah satu titik Kota Wuhan, China menjelang akhir tahun 2020. /-Roman Pilipey/EPA - Guardian
Suasana di salah satu titik Kota Wuhan, China menjelang akhir tahun 2020. /-Roman Pilipey/EPA - Guardian

Bisnis.com, JAKARTA – China gagal merealisasi komitmennya untuk membeli barang-barang Amerika Serikat senilai US$200 miliar selama 2020.

Sebelumnya, China menyetujui untuk membeli komoditas dari AS sebagai bagian dari perjanjian dagang yang disepakati Januari tahun lalu dengan imbalan pengurangan tarif senilai US$120 miliar. Perjanjian tersebut merupakan fase 1 dari resolusi perdamaian antara AS dengan China.

Data terakhir China menunjukkan Negeri Panda tersebut hanya mampu merealisasikan impor produk AS kurang dari US$135 miliar pada tahun lalu.

Sayangnya, realisasi impor senilai US$35 miliar tersebut tidak masuk dalam kriteria perjanjian dagang tersebut sehingga mengindikasikan China hanya membeli produk AS senilai US$100 miliar.

Jika dirinci, China hanya mampu mencapai target impor produk AS hingga 64 persen dari produk agrobisnis, 60 persen dari target produk manufaktur, dan 39 persen dari target energi.

Sementara itu, analisis dari Peterson Institute memperkirakan China masih harus membeli barang-barang AS senilai US$173 miliar untuk memenuhi target dari perjanjan dagang fase 1.

Sejak pandemi Covid-19 telah memacu defisit AS dengan China. Berdasarkan data bea cukai China, peralatan medis dan peralatan lain untuk menunjang aktivitas bekerja di rumah menjadi kontributor utama impor barang China ke AS pada tahun ini.

Sepanjang pandemic, dilansir dari bbc.com, Minggu (24/1/2021), China mencatat ekspor China ke AS tumbuh hampir 3 kali lipat pada Desember tahun lalu.

Perjanjian dagang fase 1 merupakan upaya kedua negara untuk mereda tensi perang dagang antara kedua negara yang memicu pengenaan tarif terhadap barang-barang China di AS.

Presiden AS saat itu Donald Trump sempat menyebutkan perjanjian dagang tersebut merupakan jalan keluar transformatif terhadap kedua negara dan akan melindungi para pekerja AS.

Dalam perjanjian itu, China wajib membeli komoditas AS senilai US$200 miliar, termasuk produk agrobisnis, manufaktur, dan energi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor ekonomi china perang dagang AS vs China

Sumber : BBC.com

Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top