Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waspada! Ini 3 Jebakan Saat Beli Rumah Pertama

Penulis Adhitya Mulya membagikan pengalamannya dalam membeli rumah melalui channel Youtube. Berikut 3 jebakan yang perlu diwaspadai saat membeli rumah pertama.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 19 Januari 2021  |  18:34 WIB
Warga melintas di proyek pembangunan rumah bersubsidi di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Rabu (27/5/2020). Bisnis - Abdurachman
Warga melintas di proyek pembangunan rumah bersubsidi di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Rabu (27/5/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Membeli rumah pertama merupakan keputusan penting yang harus Anda lakukan sebagai seorang dewasa. Pada prinsipnya, Anda harus menyesuaikan kriteria rumah idaman dengan dana atau budget yang dimiliki.

Karena pengalaman pertama, banyak orang tidak mengetahui hal-hal apa saja yang wajib diperhatikan sebelum membeli rumah. Tidak jarang, pengembang (developer) atau bank justru mengumbar trik atau bermain licik kepada calon pembeli.

Penulis Adhitya Mulya membagikan pengalamannya dalam membeli rumah melalui channel Youtube miliknya @adhityamulya. 

"Beli rumah itu adalah pekerjaan termahal, terlama, dan terberat bagi kebanyakan orang. Saking berat, saking lama, saking besarnya, kebanyakan orang hanya melakukannya sekali seumur hidup," ungkap Adhitya dikutip pada Selasa (19/1/2021).

Penulis buku "Sabtu Bersama Bapak" ini menjelaskan tiga jebakan saat membeli rumah pertama kali dalam unggahan YouTubenya yang berjudul "3 Jebakan Saat Membeli Rumah Pertama" yang diunggah pada Sabtu (16/1/2021).

Berikut 3 jebakan yang perlu Anda waspadai saat akan membeli rumah pertama:

1. Developer Membatasi Anda saat Berhutang

Hati-hati ketika developer mengungkapkan kita hanya bisa melakukan kredit pemilikan rumah atau KPR di satu bank tertentu. Hal ini patut dicurigai, bisa jadi developer ini bermasalah sehingga bank-bank yang bagus tidak mau bekerja sama dengan developer ini.

Dia mengungkapkan bahwa jika developer tetap ngotot dengan hal ini, Anda lebih baik untuk cari developer lain atau Anda juga bisa mencari sendiri. Kemudian pastikan bahwa Anda memilih bank sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.

"Yang berhutang itu kita, bukan si developer. Jadi kita berhak menentukan bank mana yang kita ingin hutangkan," tegas Adhitya.


2. Bank Membatasi Lama Waktu Berhutang

Anda patut mencurigai jika bank penyedia KPR hanya menyediakan satu opsi atau beberapa opsi terbatas untuk kredit.

"Katakanlah kita mampu untuk membayar KPR selama 10 tahun tapi opsinya dibatasi gitu. KPR yang tersedia hanya 25 tahun. Itu enggak mungkin, kalau misalkan kita opsinya dibatasi seperti itu, mendingan kita pindah," jelas pria berkacamata ini.

Pada hakikatnya makin lama berhutang, maka bunganya akan semakin besar. Hal terbaik adalah pilih waktu tersingkat untuk melunasi KPR ini sesuai dengan kemampuan Anda.

3. Rayuan Bank

Bank akan merayu Anda untuk memilih KPR dengan jangka waktu lebih lama karena dalih uangnya akan bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang tidak primer, misalnya jalan-jalan. Dia menyarankan untuk berhutang dengan sesedikit mungkin dan sependek mungkin agar tidak dibebani dengan bunga tinggi.

"Kan kebutuhan primer orang sandang, pangan, papan. Bukan sandang, pangan, jalan-jalan. Papan [rumah] inilah yang lebih mahal makanya kita harus hutang," ungkap Adhitya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kpr rumah jual beli rumah online
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top