Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peritel Sebut Konsumsi Produk Lokal Terancam Serbuan Impor

Dengan dimulainya vaksinasi dan penanganan Covid-19 yang diharapkan lebih baik, peritel menaruh target penjualan ritel bisa kembali bangkit dan tumbuh dua digit. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 17 Januari 2021  |  15:17 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha ritel memperkirakan serapan produk lokal bisa terancam oleh kehadiran barang konsumsi impor. Target kontribusi produk lokal sebesar 94,3 persen dari total konsumsi rumah tangga pun dipandang sulit.

“Saya kira akan cukup sulit untuk produk lokal mendapat serapan sebesar itu, terlebih negara-negara seperti China dan Vietnam pulih lebih cepat,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jimmy Gani saat dihubungi, Minggu (17/1/2021).

Dalam situasi daya beli yang belum pulih, Jimmy mengatakan konsumen akan cenderung memilih barang dengan harga termurah. Jika barang impor diperdagangkan dengan harga di bawah barang sejenis produksi lokal, Jimmy memastikan konsumen akan memilih produk asal negara lain.

“Terutama untuk mass products, kalau barang lokal belum bisa bersaing dari sisi harga akan sulit,” katanya.

Jika merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), impor barang konsumsi pada Desember 2020 memang naik signifikan 31,89 persen dibandingkan November 2020. Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan kenaikan barang konsumsi terbesar terjadi pada bawang putih dan pendingin ruangan (AC) dari China.

Meski memberi peringatan akan potensi serbuan impor dari negara-negara yang cepat pulih, Jimmy berpendapat sektor perdagangan eceran masih berpeluang tumbuh di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi. Tetapi, lanjutnya, optimisme ini akan sangat bergantung pada keberhasilan penanggulangan Covid-19 jelang Ramadan dan Idulfitri.

“Perdagangan besar dan eceran sangat tergantung pada festive season. Jika dalam 3 sampai 4 bulan Covid-19 tidak terkendali, perdagangan pada Ramadan dan Idulfitri bisa kembali terkontraksi dan target pertumbuhan bisa sulit dicapai,” kata dia.

Jimmy mengatakan bahwa pada 2020 penjualan eceran pada musim Ramadan dan Idulfitri mengalami kontraksi setelah pada tahun sebelumnya berhasil tumbuh 10 persen secara bulanan.

Dengan dimulainya vaksinasi dan penanganan Covid-19 yang diharapkan lebih baik, Jimmy mengatakan peritel menaruh target penjualan ritel bisa kembali bangkit dan tumbuh dua digit. 

“Januari ini memang pertumbuhan tidak seperti yang kami harapkan karena ada [kebijakan] rem di Jawa. Jika terlewati kami harap selanjutnya bisa recovery,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan barang impor pemulihan ekonomi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top