Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produsen Sepeda Nasional Tagih Janji Iklim Usaha Proindustri

Pelaku industri sepeda dalam negeri kembali menagih janji perbaikan iklim usaha yang lebih bersahabat pada industriawan. Pasalnya, hingga saat ini khususnya di industri sepeda sejumlah persoalan yang berlarut masih sebatas ditanggapi secara tertulis.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  17:50 WIB
Pesepeda BMX beratraksi di kawasan Bunderan HI. Produsen dalam negeri sudah melakukan upaya dengan menyerap seluruh produk ban lokal.  - ANTARA
Pesepeda BMX beratraksi di kawasan Bunderan HI. Produsen dalam negeri sudah melakukan upaya dengan menyerap seluruh produk ban lokal. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri sepeda dalam negeri kembali menagih janji perbaikan iklim usaha yang lebih bersahabat pada industriawan. Pasalnya, hingga saat ini khususnya di industri sepeda sejumlah persoalan yang berlarut masih sebatas ditanggapi secara tertulis.

Ketua Umum Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) Rudiyono mengatakan pada tahun lalu kondisi industri sepeda sudah cukup baik, yang mana ada peningkatan produksi dan permintaan. Bahkan, asosiasi mencatat penjualan sudah menembus dua kali lipat dari 2019 yang sekitar 2-2,5 juta unit.

"Kami masih optimis dengan tahun ini setelah tahun lalu mencatakan kinerja penjualan kalau dengan sepeda impor ya, mungkin bisa lebih 8 juta. Porsi penjualan sepeda lokalnya sekitar 4 jutaan. Namun sekarang kami masih merasa belum ada perlakuan iklim usaha yang adil," katanya kepada Bisnis, Senin (11/1/2020).

Rudiyono mengemukakan iklim yang dirasa belum baik itu sebenarnya sudah terjadi dalam kurun waktu 3 tahun ini. Salah satunya karena pemberlakukan wajib SNI untuk komponen ban dan rantai di mana dokumen SNI sepeda sendiri belum ada.

Adapun saat ini produsen dalam negeri sudah melakukan upaya dengan menyerap seluruh produk ban lokal. Dengan begitu, kekurangan dari ban yang dibutuhkan harus didatangkan secara impor.

"Jadi ada ketetapan ban harus SNI sedangkan belum ada di dokumen sepeda. Kami sudah ajukan persoalan ini ke Kementerian Perindustrian dan mereka memahami tetapi ya sebatas dicatat belum ditindaklanjuti lagi. Akhirnya, proses produksi selalu terhambat dan sulit direncanakan karena janji pemberian SNI yang cepat juga sebatas semangat, faktanya masih lama sekali," ujar Rudiyono.

Dia menegaskan pada prinsipnya produsen dalam negeri tidak meminta perlindungan atau pembatasan produk impor yang selama ini menjadi pesaing terberat tetapi jika iklim usaha yang baik bisa diberikan maka pihaknya akan siap dalam mendorong industri sepeda dalam negeri lebih meningkat dan bergairah.

Rudiyono menyebut saat ini rerata kapasitas produksi dalam negeri berkisar 4-5 juta pertahun dalam satu shift. Artinya, bukan menjadi hal yang sulit bagi produsen untuk meningkatkan shift menjadi dua kali lipat sehingga kapasitas pun meningkat hingga 100 persen dari saat ini.

"Namun, pasarnya menjamin tidak? Membuat itu lebih gampang daripada menjual. Untuk ekspor yang permintaannya terus membaik saja saat ini 90 persen dipenuhi dari satu produsen yakni Poligon," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pabrik Sepeda Sepeda Nasional
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top