Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor-Impor 2021 Diprediksi Moncer, Pelaku Usaha Harap Ada Fasilitas

Fasilitasi ekspor ini diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai hub perdagangan dalam rantai nilai global.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  18:08 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi optimistis kinerja ekspor dan impor pada 2021 akan tumbuh signifikan dibandingkan dengan 2020.

Optimisme ini berangkat dari kinerja perdagangan sampai November 2020 yang tidak mengalami koreksi terlalu dalam meski kebijakan pembatasan sosial diterapkan Indonesia dan berbagai negara. Ekspor Indonesia tercatat hanya terkoreksi 4,22 persen, sedangkan impor turun drastis 18,91 persen dibandingkan Januari-November 2019.

“Memang terjadi koreksi daripada ekspor dan impor kita, tetapi koreksi tersebut tidak signifikan. Karena tidak signifikan, kita melihat basis yang sudah rendah itu, kita akan mengalami perbaikan yang signifikan 2021, terutama untuk ekspor dan impor,” ujar Lutfi dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (11/1/2021).

Meski optimistis ekspor dan impor bakal membaik, Lutfi berpendapat penanganan Covid-19 dan vaksinasi akan memainkan peran signifikan dalam pemulihan ekonomi, baik ekonomi nasional maupun di negara-negara destinasi ekspor.

Dia memperkirakan negara-negara yang telah memulai vaksinasi bisa mulai pulih pada kuartal I dan II 2021. Sementara negara berkembang akan mulai membaik perekonomiannya pada penghujung 2021. 

“Kalau kita lihat, negara maju yang menjadi destinasi ekspor utama seperti China, AS, dan Eropa mulai menuju normal antara akhir kuartal I dan II tahun ini. Sementara negara berkembang dan kelas menengah di kuartal III dan IV,” katanya.

Kendati demikian, Lutfi belum mengungkap target ekspor yang dipatok pemerintah untuk tahun ini. Dia mengatakan target akan disampaikan kala Badan Pusat Statistik telah merilis laporan perdagangan sepanjang 2020.

Namun jika merujuk pada Renstra Kemendag 2020-2024, Kemendag menargetkan neraca perdagangan surplus US$1 miliar, sementara ekspor riil barang dan jasa naik 4,2 persen. Ekspor nonmigas ditarget naik 6,3 persen serta rasio ekspor terhadap PDB diharapkan tumbuh sebesar 2,8 persen.

Lutfi tak memungkiri jika pasar nontradisional bakal pulih lebih cepat dibandingkan negara nontradisional yang masih diselimuti ketidakpastian. Tetapi, dia berpandangan perluasan ke pasar-pasar ini diperlukan seiring dengan transformasi ekspor Indonesia yang lebih berbasis ke produk manufaktur bernilai tambah.

“Pada saat ini pasar nontradisional sangat lambat meresponsnya karena mereka tahu kita mencari pasar, namun ini menjadi tugas kami untuk mendobrak pasar ini dan kami akan terus upayakan akses ke pasar potensial ini. Kalau tidak sekarang kapan?” terang Lutfi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani membenarkan bahwa dalam waktu dekat para eksportir akan lebih memprioritaskan ekspor ke pasar yang telah dipenetrasi karena tingkat ketidakpastian global yang tinggi.

Meski demikian, dia tetap mengatakan pembukaan akses lewat perjanjian dagang tetap diperlukan untuk perdagangan jangka menengah dan panjang.

“Biasanya dalam dua tahun sejak entry into force peningkatan tidak signifikan karena pelaku usaha baru menjajaki dan belajar menyesuaikan dengan potensi dan risiko pasar tujuan. Tetapi kemudian akan naik signifikan,” kata Shinta kepada Bisnis.

Dalam konteks pasar nontradisional dengan risiko dan biaya perdagangan yang tinggi, Shinta berpendapat keberhasilan meningkatkan kinerja ekspor akan tergantung pada akses finansial dan dukungan skema pembiayaan ekspor dari pemerintah karena perdagangan bisa tidak kompetitif bila pembiayaan ekspor dilakukan secara komersial.

“Karena itu kami menyarankan pemerintah dan Kemendag juga melihat pentingnya faktor-faktor fasilitasi perdagangan seperti ini untuk menggenjot kinerja ekspor secara lebih maksimal,” kata Shinta.

Fasilitasi ekspor ini diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai hub perdagangan dalam rantai nilai global. Shinta mengatakan investor pun perlu mendapat jaminan bahwa investasi yang ditanam di Indonesia tidak semata-mata hanya untuk pasar domestik tapi juga pasar internasional.

“Di sisi ekspor perlu dilakukan fasilitasi perdagangan untuk memperlancar dan meningkatkan efisiensi ekspor. Misal dengan pembiayaan ekspor yang lebih affordable ke negara nontradisional dan untuk eksportir skala UMKM,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor kemendag pemulihan ekonomi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top