Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eksportir Gandum Australia Beralih dari China ke Afrika

Selain Afrika, Australia kemungkinan juga akan mendorong pembeli utama di kawasan seperti, Indonesia, Thailand, dan Vietnam, untuk kembali melirik Australia.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  17:01 WIB
Ladang gandum -
Ladang gandum -

Bisnis.com, JAKARTA - Pertanian Australia dilanda ketidakpastian karena terdampak ketegangan yang memuncak dengan China dan gangguan yang disebabkan pandemi virus Corona.

Namun demikian, cuaca buruk di belahan dunia lain kemungkinan akan mendatangkan keuntungan bagi Australia yang merupakan salah satu eksportir gandum terbesar dunia.

Menurut Andrew Whitelaw, seorang analis pertanian di Thomas Elder Market di Melbourne, jika kondisi cuaca tetap buruk di Rusia dan menyebabkan berkurangnya panden, gandum Australia kemungkinan akan mencapai importir besar di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Selain itu, Australia juga diperkirakan akan memanen lebih dari 30 juta ton gandum setelah hujan deras mendorong produksi. Dua faktor tersebut kemungkinan juga akan mendorong pembeli utama di kawasan seperti, Indonesia, Thailand, dan Vietnam, untuk kembali melirik Australia.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak memiliki volume untuk memenuhi permintaan Asia Tenggara. Sekarang kami tidak hanya memiliki panenan besar-besaran, tetapi juga memiliki potensi panen yang buruk di bagian lain dunia,” kata Whitelaw, dilansir Bloomberg, Senin (11/1/2021).

Dengan cuaca kering yang melukai wilayah pertumbuhan utama di belahan bumi utara, pasokan global yang lebih ketat menguntungkan Australia.

Pasar tersebut biasanya dipasok oleh Rusia dan Eropa. Australia biasanya tidak menjual ke pasar itu karena biaya pengiriman yang lebih tinggi. Namun, Rusia kini telah memberlakukan pajak atas ekspor, menciptakan peluang untuk harga gandum kompetitif bagi pengirim lain.

"Pasar gandum didasarkan pada harga di mana pun di dunia. Saat ini kami mendapatkan gandum yang sangat murah, "kata Whitelaw.

Sementara industri tampaknya telah menghindari pukulan publik yang besar dari pertengkaran antara Beijing dan Canberra. China hanya membeli 888 ton dari Australia pada November, terendah sejak 2011, menurut data bea cukai yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Namun demikian, panen besar-besaran di Negeri Kanguru bisa menjadi tantangan untuk mendapatkan pembeli. Menurut Whitelaw, jika persediaan berlimpah, pedagang kemungkinan kurang berminat untuk membeli biji-bijian dalam jangka pendek.

Meski demikian, prospek yang baik tetap ada karena hujan diperkirakan akan tetap mendukung pada musim panen berikutnya.

"Saya sebenarnya tidak melihat banyak hambatan saat ini,” katanya.

Harga gandum berjangka di Chicago turun 0,9 persen hari ini, penurunan hari keempat dan penurunan lebih lanjut dari penutupan tertinggi enam tahun di angka US$6,54 per gantang yang dicapai pada 5 Januari 2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gandum australia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top