Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyumbang Surplus Terbesar, Kemendag Ikut Jaga Harga Minyak Sawit

Crude Palm Oil (CPO) masih memiliki keunggulan komparatif dari segi harga dengan pangsa ekspor terbesar.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  16:55 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan akan menjamin kebijakan untuk minyak sawit tahun ini sejalan dengan upaya untuk mengendalikan harga komoditas tersebut di level internasional.

Dengan demikian, dampak positif dari kinerja komoditas ini dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Kemendag mencatat kelompok produk minyak nabati (HS 15) merupakan penyumbang surplus terbesar bagi RI sepanjang Januari sampai November 2020 dengan nilai US$17,91 miliar. Harga rata-rata CPO yang menguat 27,95 persen pada 2020 membuktikan kontribusi komoditas terhadap ekspor nonmigas tumbuh pesat.

Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 12,25 persen dari US$15,57 miliar pada Januari—November 2019 menjadi US$18,10 miliar pada Januari—November 2020. Kenaikan nilai ini dirasakan meski volume ekspor terkoreksi 7,56 persen dari 29,6 juta menjadi 27,36 juta ton.

“Kebijakan Kemendag tentunya tidak akan terlepas dari kebijakan menyeluruh pemerintah seperti komitmen melanjutkan B30. Dengan kebijakan ini kami harap dapat membantu mengendalikan harga internasional sehingga dampak positifnya dapat terjaga secara berkelanjutan,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Oke Nurwan saat dihubungi, Kamis (7/1/2021).

Oke pun meyakini permintaan CPO tetap akan positif pada 2021 terlepas dari naiknya permintaan untuk kedelai dari destinasi utama minyak nabati Indonesia, yakni China.

Bagaimanapun, lanjut Oke, CPO masih memiliki keunggulan komparatif dari segi harga dengan pangsa ekspor terbesar. Minyak sawit pun menyumbang 32 persen dari total produksi minyak nabati global.

“Peningkatan impor kedelai oleh China tidak akan memengaruhi kebutuhan CPO. Impor tersebut lebih karena kebutuhan pasokan kedelai lokal China menurun,” lanjutnya.

Meski Kemendag bakal mendukung keberlanjutan penyerapan domestik lewat B30, Oke mengatakan perluasan ekspor ke pasar-pasar baru tetap tidak dikesampingkan. Dia menjelaskan terdapat peluang ekspor ke negara-negara mitra nontradisional yang memperlihatkan kenaikan permintaan yang signifikan.

Hasil Pusat Kajian Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag menunjukkan kenaikan tertinggi terjadi di Kenya yang pada Januari-Oktober 2019 membukukan impor CPO senilai US$105 juta dan naik 123,8 persen menjadi US$235 juta.

Peningkatan yang drastis pun diperlihatkan Vietnam dari US$171 juta menjadi US$337 juta pada Januari-Oktober 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendag Biodiesel ekspor cpo
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top