Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Kedelai Naik, Gapmmi: Industri Besar Mamin Tidak Terpengaruh

Faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia adalah lonjakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  17:58 WIB
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa -  Kemenperin
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan tingginya harga kedelai tidak mempengaruhi industri besar makanan dan minuman. 

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mencatat sekitar 70 persen kedelai di dalam negeri diserap oleh industri tempe dan tahu yang notabenenya industri kecil dan menengah (IKM). Walau demikian, Adhi berujar pabrikan besar harus memitigasi kenaikan harga kedelai tersebut. 

"Saya dengar banyak yang mengurangi ukuran jual. Ketersediaan kedelai untuk produksi masih ada [bagi industri besar]," katanya, Selasa (5/1/2021). 

Sebelumnya, Gabungan Koperasi Pengrajin Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo) menduga kenaikan harga tersebut disebabkan oleh meningkatnya permintaan kedelai oleh China. Tetapi, Adhi menilai kenaikan permintaan tersebut tidak menjadi pendorong tunggal. 

Adhi berpendapat fenomena kelangkaan kontainer yang terjadi sejak kuartal III/2020 juga berkontribusi dalam menaikkan harga kedelai. Adapun, 90 persen dari kedelai yang ada di dalam negeri berasal dari Amerika Serikat. 

Berdasarkan data Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo) di mana ketersediaan stok kedelai di gudang importir selalu stabil di angka 450.000 ton, dengan kebutuhan untuk para anggota Gakoptindo sebesar 150.000 -160.000 ton per bulan.

Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gapoktindo) Aip Syarifudin memprediksi harga kedelai di pasaran akan kembali pada Februari - Maret 2021.

Kondisi tersebut akan terjadi jika pemerintah segera mengambil sejumlah langkah penyesuaian dengan situasi yang terjadi. 

Menurut Aip, kedelai lokal secara kualitas lebih baik dari kedelai impor dan memiliki harga jual yang kompetitif, yakni di kisaran Rp8.500 per kilogram.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto mengatakan faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia adalah lonjakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020 permintaan kedelai China naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri mamin impor kedelai
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top