Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Batasi Pinjaman Bank untuk Real Estat

China membatasi pinjaman perbankan ke sektor real estat untuk mendinginkan pasar setelah sejumlah kebijakan sebelumnya tak berpengaruh signifikan untuk meredam kenaikan harga rumah.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 02 Januari 2021  |  15:07 WIB
Residensial di Tianjin, China. - Bloomberg
Residensial di Tianjin, China. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Regulator China akan memberlakukan batasan pada pinjaman bank ke sektor real estat untuk pertama kalinya, dalam upaya terbaru mereka untuk mencegah risiko sistematis setelah serangkaian pembatasan properti dalam beberapa tahun terakhir tidak banyak mengurangi antusiasme pembeli.

Di bawah mekanisme baru yang mulai berlaku pada 1 Januari 2021, pinjaman kepada pengembang akan dibatasi hingga 40 persen untuk pemberi pinjaman milik negara terbesar di negara itu.

Pinjaman hipotek bank dibatasi tidak lebih dari 32,5 persen dari kredit terutang mereka, demikian pernyataan bersama Bank Rakyat China serta Komisi Regulasi Perbankan dan Asuransi China.

Mereka yang melebihi batas itu akan memiliki masa tenggang hingga 4 tahun untuk memenuhi persyaratan.

Langkah tersebut menggarisbawahi tekad pihak berwenang untuk menjaga ketat sektor yang rawan gelembung dan mengekang pengaruh di beberapa pengembang terbesar negara.

Harga rumah China terus naik meskipun bertahun-tahun ada peraturan yang ketat, memicu ketidakpuasan sosial dan meningkatkan risiko keuangan karena pemberi pinjaman meningkatkan “perjudian” pada sektor tersebut untuk meningkatkan keuntungan.

"Kebijakan baru ini sejalan dengan arah penguatan pengawasan dan pencegahan bubble," kata Chengyu Huang, Manajer Investasi China Cinda (HK) Holdings. "Itu selanjutnya mengurangi sentimen investor terhadap saham real estat."

Indeks saham pengembang yang terdaftar di Shanghai merosot 10 persen pada tahun 2020, sementara indeks acuan Shanghai Composite menguat 14 persen.

Pada awal 2020, pengawas perumahan dan bank sentral China meminta 12 pengembang termasuk China Evergrande Group, Sunac China Holdings Ltd, dan China Vanke untuk melaporkan pembiayaan, total utang, dan data bisnis pada tanggal 15 setiap bulan untuk memantau kesehatan keuangan mereka.

Harga rumah baru naik 0,12 persen pada November 2020, laju paling lambat sejak Februari, karena pembatasan properti yang lebih luas berhasil mendinginkan permintaan dan mendorong pengembang untuk memangkas harga. Namun, harga-harga terus naik setiap bulan sejak pertengahan 2015.

Untuk saat ini, kekhawatiran baru akan ketinggalan kenaikan harga dan dorongan untuk waspada terhadap inflasi yang diantisipasi menopang permintaan perumahan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china bisnis properti

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top