Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tak Perlu Ada Pembatasan Truk Lagi, Ini Alasan Aptrindo

Aptrindo menjelaskan alasan kebijakan pembatasan angkutan barang selama libur tidak perlu diterapkan lagi.
Kendaraan melintas di Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/2/2020). Bisnis/Paulus Tandi Bone
Kendaraan melintas di Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (26/2/2020). Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai kebijakan pemerintah membatasi operasional angkutan barang selama libur panjang tak perlu lagi diterapkan karena pengusaha sudah menyesuaikannya dengan tingkat permintaan pasar.

Ketua Bidang Angkutan Curah Cair dan Kering DPP Aptrindo Haryadi Djaya mengatakan pada periode libur panjang, banyak manufaktur yang juga sudah menyesuaikan pengiriman dengan jadwal hari libur. Manufaktur hanya akan melakukan pengiriman penting pada hari libur dan selebihnya akan berpikir ulang untuk menyesuaikan dengan perhitungan ekonomi.

Pasalnya untuk melakukan pegiriman pada hari libur juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit seperti insentif lembur bagi pekerjanya.

“Kalau pemerintah bijaksana, semua roda ekonomi harus berjalan yang mau libur silahkan. Waktunya libur apakah gudang juga nggak libur. Pemilik pabrik waktunya libur kalau nggak penting kan juga pasti tutup. Namun untuk yang penting mau bayar semahal apapun kan akan bayar karena harus,” ujarnya, Minggu (27/12/2020).

Pemerintah, sebutnya, sebagai pembuat kebijakan selama ini hanya sekadar membuat aturan tetapi tidak pernah mengalami dan melihat dari sisi bisnis. Alhasil, kata dia, pemilik yang barangnya penting untuk dikirim merasa dihalangi akibat pembatasan dan larangan truk masuk ke tol.

“Mekanismenya diserahkan ke pasar, warehouse nggak penting juga akan libur logikanya. Pemerintah hanya menyamaratakan dan tidak bisa memberikan fasilitas kepada barang yang penting. Pebisnis juga mengatur keuangan secara efisien. Ketika penting tetap dilarang ini yang jadi hambatan. Mekanisme pasar itu lebih baik,” tekannya.

Dia mencontohkan pada hari libur Sabtu dan Minggu, pergerakan kontainer di Tanjung Priok secara otomatis juga akan mengalami penurunan hingga 50 persen. Bahkan untuk hari Minggu aktivitasnya hanya akan mencapai 10 persen hingga 20 persen karena semua pabrik pun libur.

Hariyadi berpendapat kebijakan tersebut muncul hanya karena ketakutan dari pemerintah. Pengusaha, sebutnya, bisa memaklumi apabila kebijakan tersebut hanya berlaku setahun sekali pada lebaran saja. Namun, pemerintah justru saat ini justru memanfaatkannya setiap terdapat libur panjang dan mengorbankan pengusaha truk.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper