Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Produk Refraktori Bakal Wajib SNI Mulai 2021

Kementerian Perindustrian tengah menyusun aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib bagi produk refraktori yang diharapkan dapat diimplementasikan pada 2021. Hal ini guna menjaga daya saing industri dalam negeri dan keamanan konsumen domestik.
PT Tsingshan Steel Indonesia menggunakan proses peleburan blast furnace. /imip.co.id
PT Tsingshan Steel Indonesia menggunakan proses peleburan blast furnace. /imip.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — Salah satu subsektor industri bahan galian nonlogam yang sedang dipacu tumbuh adalah industri refraktori. Untuk itu, aturan SNI wajib tengah disiapkan untuk diimplementasikan pada 2021.

Refraktori adalah material yang dapat mempertahankan sifat-sifatnya dalam kondisi yang sangat berat atau ekstrem karena temperatur tinggi atau kontak dengan bahan-bahan lain yang korosif.

Beberapa bahan produk refraktori di antaranya adalah alumina, lempung (clay), magnesia, chromit, dan silicon karbida. Refraktori umumnya digunakan untuk mengonstruksi atau melapisi struktur yang berhubungan dengan temperatur tinggi, seperti perapian hingga blast furnace.

Adie Rochmanto Pandiangan, Direktur Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam Kemenperin, mengatakan aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib bagi produk refraktori tengah disusun dan diharapkan dapat diimplementasikan pada 2021. Hal ini untuk menjaga daya saing industri di dalam negeri sekaligus demi menjaga keamanan konsumen domestik.

“Mengingat produk-produk refraktori digunakan di area-area kritis di industri-industri proses vital nasional yang menyangkut keselamatan alat produksi, keselamatan manusia dan lingkungan sehingga layak menjadi SNI wajib,” katanya baru-baru ini.

Sejauh ini masih dilaksanakan rapat konsensus pembahasan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk produk refraktori raming mix jenis samot dan jenis kadar alumina tinggi yang merupakan revisi SNI-15-06000-1989. Sedangkan, refraktori bahan tahan api kastabel jenis alumina dan alumina silika sebagai revisi SNI-15-0809-2001 telah selesai dibahas dalam rapat konsensus sebelumnya.

Rapat konsensus produk refraktori ini dilaksanakan oleh Komite Teknis 81-04 melalui Surat Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional Nomor 323 Tahun 2020.

Rapat tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain pemerintah, para pakar dari Balai Besar Keramik Kemenperin dan perguruan tinggi, konsumen pengguna refraktori, serta pelaku usaha atau produsen refraktori.

Lebih lanjut, rapat konsensus ini dilaksanakan secara daring maupun luring dan didukung sepenuhnya oleh para pelaku usaha refraktori, di antaranya PT Refratech Mandalaperkasa (RMP) yang merupakan perusahaan lokal yang bergerak dalam bidang manufaktur semen tahan api dan layanan jasa rekayasa serta aplikasi konstruki refraktori, termasuk pracetak, yang berdiri sejak 1992 di Citeureup, Bogor.

Selain itu, PT Benteng Api Technic atau BAT Refractories, yang merupakan produsen batu bata tahan api, semen tahan api dan material refraktori dengan produk utamanya meliputi fire clay bricks, high alumina brick, refractory mortar, castable refractory, gunning castable dan lain-lain. Perusahaan ini berdiri sejak 1997 di Surabaya.

“Berikutnya, juga ada PT Benteng Api Refractorindo, PT Jaya Refractorindo Utama, PT Refractorindo Graha Dinamika, PT Dinamika Rekayasa Panas, dan PT Indonesia Chemical Alumina,” sebut Adie.

LEBIH EFISIEN

Ketua Umum Asosiasi Industri Refraktori dan Isolasi Indonesia (Asrindo) Basuki mengatakan SNI sebagai instrumen nontarif atau non-tariff measures diharapkan dapat memberikan perlindungan dan pengamanan terhadap investasi dan pelaku usaha refraktori dalam negeri.

“Negara-negara di dunia banyak yang telah memanfaatkan standar, regulasi teknis, dan prosedur penilaian kesesuaian sebagai alat mengamankan industri dalam negeri dari serangan produk-produk impor,” paparnya.

Menurut Basuki, penerapan SNI juga akan membantu dalam penyelarasan spesifikasi teknis produk dan jasa sehingga industri lebih efisien dan mampu meningkatkan daya saingnya. Kesesuaian dengan standar membantu meyakinkan konsumen bahwa produk tersebut aman, efisien dan baik untuk lingkungan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam menyampaikan, salah satu subsektor industri bahan galian nonlogam yang sedang dipacu tumbuh, yakni industri refraktori.

Hasil produknya digunakan sebagai pelapis untuk tungku, kiln, insinerator, dan reaktor tahan api pada industri semen, keramik, kaca dan pengecoran logam.

Saat ini, kebutuhan nasional terhadap produk refraktori mencapai 150.000-200.000 ton per tahun. Sementara itu, industri dalam negeri memasok kebutuhan tersebut sebesar 50.000 ton per tahun.

"Industri refraktori merupakan industri padat modal yang membutuhkan bahan baku dari sumberdaya alam," kata Khayam.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Fatkhul Maskur
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper