Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hadapi Krisis Ekonomi Tahun Depan, Bank Sentral Eropa Perpanjang Stimulus

Survei ekonom Bloomberg memperkirakan kebijakan ECB akan diperpanjang selama enam bulan dengan insentif tambahan 500 miliar euro (US$608 miliar) untuk program pembelian obligasi darurat senilai 1,35 triliun euro.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 04 Desember 2020  |  09:07 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral Eropa akan memperpanjang dua program stimulus utama hingga akhir tahun depan guna mendukung ekonomi sampai vaksin tersedia secara luas.

Survei ekonom Bloomberg memperkirakan kebijakan ECB akan diperpanjang selama enam bulan dengan insentif tambahan 500 miliar euro (US$608 miliar) untuk program pembelian obligasi darurat senilai 1,35 triliun euro. Hal ini akan diputuskan minggu depan, 10 Desember 2020.

ECB juga diharapkan menawarkan pinjaman jangka panjang baru kepada bank, dan memperpanjang periode di mana bank bisa mendapatkan insentif tambahan untuk menjaga agar kredit tetap mengalir ke perusahaan dan rumah tangga.

Dengan lonjakan infeksi yang memaksa pemerintah untuk memberlakukan pembatasan baru pada aktivitas ekonomi, ECB telah berkomitmen untuk melakukan lebih banyak tindakan.

Pejabat termasuk Presiden Christine Lagarde telah menyoroti Program Pembelian Darurat Pandemi dan menargetkan pinjaman jangka panjang ke bank, yang disebut TLTRO, sebagai alat utama lembaga selama krisis.

Sementara itu, kemajuan terbaru dalam vaksin melawan Covid-19 membuat kemungkinan pandemi dapat segera diatasi.

Namun, kejatuhan ekonomi seperti tingkat utang yang tinggi dan pengangguran yang lebih besar kemungkinan akan terjadi lebih lama.

Risiko lain tetap ada, seperti perjuangan Uni Eropa untuk menyetujui persyaratan pada paket belanja bersama 1,8 triliun euro, dan kegagalan mencapai kesepakatan perdagangan dengan Inggris sebelum tenggat waktu 31 Desember 2020.

"Berakhirnya krisis kesehatan, yang tampaknya terjadi pada tahun 2021, tidak berarti akhir dari krisis ekonomi," kata Kepala Ekonom Eropa di Barclays Plc. Philippe Gudin.

Menurutnya, ECB kemungkinan akan mengomunikasikan kesediaannya untuk memastikan bahwa jalan menuju pemulihan penuh akan terus difasilitasi oleh kondisi likuiditas dan keuangan yang sangat mendukung.

Selain pembelian obligasi yang lebih banyak - perkiraan berkisar dari 250 miliar euro hingga 650 miliar euro - para ekonom juga mengharapkan ECB untuk menawarkan bank akses yang lebih besar ke pinjaman jangka panjangnya.

Persyaratan luar biasa yang memberi perbankan pinjaman insentif keuangan untuk menyalurkan kredit ke ekonomi riil terlihat diperpanjang enam bulan hingga akhir 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

insentif ecb

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top