Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Revisi RUPTL 2021-2030 Ditargetkan Selesai Akhir Tahun

Dalam RUPTL 2019-2028, rencana penambahan pembangkit selama 10 tahun total mencapai 56,4 gigawatt (GW). Namun dalam revisi RUPTL tahun depan, jumlah kapasitas pembangkit tersebut berpotensi dikurangi sekitar 10 GW hingga 15 GW.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 24 November 2020  |  20:56 WIB
Saluran Transmisi merupakan media yang digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik dari Generator Station/ Pembangkit Listrik sampai distribution station hingga sampai pada konsumer pengguna listrik.  - pln.co.id
Saluran Transmisi merupakan media yang digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik dari Generator Station/ Pembangkit Listrik sampai distribution station hingga sampai pada konsumer pengguna listrik. - pln.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Penyusunan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 masih dibahas secara intensif oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penyusunan ditargetkan selesai akhir tahun ini.

"Sekarang kami sedang bahas intentif RUPTL 2021-2030. Berharap di Desember bisa dikeluarkan," ujar Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu dalam acara Virtual The 9th Indonesia EBTKE ConEx 2020, Selasa (24/11/2020).

Menurut Jisman, pandemi Covid-19 diproyeksikan akan berdampak signifikan terhadap target penambahan pembangkit dalam revisi RUPTL tahun depan. Hal ini disebabkan pertumbuhan permintaan listrik mengalami penurunan.

Dalam RUPTL 2019-2028, rencana penambahan pembangkit selama 10 tahun total mencapai 56,4 gigawatt (GW). Namun dalam revisi RUPTL tahun depan, jumlah kapasitas pembangkit tersebut berpotensi dikurangi sekitar 10 GW hingga 15 GW.

"Saya bisa pastikan ini akan ada adjustment karena demand turun. Saya belum bisa katakan turunnya berapa GW, tapi paling tidak 10-15 GW. Sedang itung-itungan berapa yang perlu dibangun mengingat demand turun," kata Jisman.

Dalam revisi jumlah tambahan pembangkit tersebut, jenis pembangkit energi terbarukan (EBT) juga termasuk yang dikurangi jumlahnya dari semula 16,7 GW menjadi sekitar 14,4 GW.

Meski demikian, Jisman memastikan bahwa pemerintah masih berkomitmen untuk mencapai target porsi EBT 23 persen dalam bauran energi pada 2025.

"EBT di RUPTL baru mungkin berkurang, tapi tetap mempertahankan di angka 23 persen pada 2025," katanya.

Sebelumnya, Jisman mengatakan bahwa dalam revisi RUPTL tahun depan penyelesaian program 35.000 MW juga akan mengalami penyesuaian. Penyelesaian mega proyek tersebut akan membutuhkan tambahan waktu mengingat permintaan listrik PLN turun akibat pandemi Covid-19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik RUPTL
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top