Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Pangan Global Naik, Industri Mamin Mulai Waspada

Kenaikan harga dikhawatirkan bakal mengganggu aktivitas industri makanan minuman yang memakai bahan baku impor, terutama pada awal tahun depan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 12 November 2020  |  17:10 WIB
Karyawan bekerja di dalam gudang penyimpanan stok gula pasir milik PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Blitar, Jawa Timur, Senin (9/3/2020). Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menyatakan harga gula secara nasional berangsur naik hingga mencapai Rp16.550 per kilogram sejak Jumat (6/3/2020) kemarin, dari harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 12.500 per kilogram. ANTARA FOTO - Irfan Anshori
Karyawan bekerja di dalam gudang penyimpanan stok gula pasir milik PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Blitar, Jawa Timur, Senin (9/3/2020). Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menyatakan harga gula secara nasional berangsur naik hingga mencapai Rp16.550 per kilogram sejak Jumat (6/3/2020) kemarin, dari harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 12.500 per kilogram. ANTARA FOTO - Irfan Anshori

Bisnis.com, JAKARTA – Tren kenaikan harga pangan dunia dalam lima bulan terakhir membuat pelaku usaha di Tanah Air mulai waspada.

Kenaikan harga dikhawatirkan bakal mengganggu aktivitas industri makanan minuman yang memakai bahan baku impor, terutama pada awal tahun depan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman pun membenarkan kenaikan harga gula akibat produksi yang turun di Thailand, salah satu pemasok utama bagi Indonesia.

Sementara kenaikan harga komoditas lain yang turut memainkan peran penting bagi operasional industri makanan dan minuman dalam negeri, dikhawatirkan bakal memperberat kinerja.

“Jika tren kenaikan berlanjut akan berat bagi industri. Harga pokok produksi bisa naik tapi belum tentu kami bisa menaikkan harga jual [di konsumen] karena masih proses pemulihan daya beli,” kata Adhi kepada Bisnis, Kamis (12/11/2020).

Indeks harga pangan Organisasi Perdagangan Dunia (FAO), yang melacak harga internasional untuk komoditas pangan yang paling banyak diperdagangkan, mencapai angka rata-rata 100,9 poin pada Oktober. Angka ini naik 3,1 persen dibandingkan September 2020 dan 6 persen lebih tinggi dibandingkan poin pada periode yang sama tahun lalu.

Indeks harga sereal naik 7,2 persen dibandingkan dengan September dan 16,5 persen lebih tinggi dibandingkan dengan Oktober 2019. Indeks harga minyak nabati pun memperlihatkan kenaikan sebesar 1,8 persen secara bulanan dan menyentuh nilai tertinggi dalam 9 bulan.

Selain itu, indeks harga susu juga menunjukkan kenaikan 2,2 persen dan melanjutkan tren kenaikan dalam lima bulan terakhir.

Peningkatan impor oleh negara-negara Asia dan Timur Tengah ketika ekspor diproyeksi lebih sedikit akibat faktor musim di Oseania menyebabkan indeks harga susu berada 3,5 persen lebih tinggi dibandingkan dengan Oktober 2019.

Proyeksi produksi yang lebih rendah dari dua pemasok utama gula global, Brazil dan India, juga mengerek harga komoditas tersebut di posisi 9,3 persen lebih tinggi dibandingkan dengan Oktober tahun lalu. Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan produksi gula di Thailand yang mencapai 5 persen akibat cuaca kering.

Untuk mengurangi risiko gangguan aktivitas pada awal tahun, Adhi berharap pemerintah bisa mempercepat proses perizinan agar pelaku usaha bisa segera mencari alternatif pasokan.

Sebagai contoh, dia melaporkan bahwa sejumlah pabrikan mulai kesulitan mendapat pasokan gula rafinasi karena stok dari pabrik pengolah gula mentah kian menipis.

Adhi mengatakan bahwa pasokan gula yang tersedia saat ini hanya berasal dari Brazil, padahal proses pengiriman dari negara tersebut setidaknya memakan waktu dua bulan.

“Untuk jangka pendek kami harap izin segera diberikan. Namun untuk jangka panjang tentu bagaimana produksi di dalam negeri bisa digenjot sehingga memenuhi kebutuhan industri,” kata Adhi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor industri makanan dan minuman harga pangan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top