Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia & Jepang Akan Kembangkan 3 Produk Bionergi, Apa Saja?

Indonesia terus berusaha menjaga kualitas dan kuantitas produk biomassa agar dapat memenuhi standar yang dibutuhkan pasar Jepang.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 10 November 2020  |  18:17 WIB
Ilustrasi: Petugas memperlihatkan contoh bahan bakar biodiesel saat peluncuran Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, di Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi: Petugas memperlihatkan contoh bahan bakar biodiesel saat peluncuran Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, di Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dan Jepang menjalin kemitraan untuk pengembangan produk bioenergi guna memenuhi kebutuhan pasar bioenergi Jepang.

Dalam kemitraan yang difasilitasi Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) ini, rencananya terdapat tiga produk bioenergi yang akan dikembangkan, yakni produk kelapa nonstandar untuk bahan bakar pesawat atau bioavtur, mobil diesel, dan pembangkit listrik; produk pelet dari tandan kosong sawit (EFB); dan produk pelet dari kayu energi.

"Ada tiga produk bioenergi yang akan segera kami siapkan di Indonesia dan yang pertama ini untuk memenuhi kebutuhan pasar Jepang dulu.  Begitu masuk pasar Jepang, insyaallah ke pasar lain akan mudah, termasuk memenuhi kebutuhan Indonesia sendiri," ujar Ketua Umum IJB-Net Suyoto Rais dalam Kickoff Meeting Rencana Kerja Pemenuhan Kebutuhan Pasar Bioenergi Jepang, Selasa (10/11/2020).

Untuk saat ini, baru proyek pengembangan kelapa nonstandar yang telah mendapatkan kepastian investor dan pembeli dari Jepang.  Pada kickoff meeting ini telah ditandatangani perjanjian kemitraan (partnership agreement) Indonesia-Jepang terkait pengembangan proyek bioenergi dari kelapa nonstandar antara IJB-Net dan Green Power Development Corporation of Japan. Green Power Development Corporation of Japan akan berperan sebagai pembeli, investor, dan pengembang produk, sedangkan Indonesia akan membentuk konsorsium sebagai mitra pemasok bahan baku.  Pabrik pengolahan untuk proyek ini rencananya dibangun di Riau dan Sulawesi Utara.

Adapun, untuk pengembangan produk pelet EFB dan pelet kayu belum mendapatkan kepastian investor, tetapi sudah ada peminatnya.  

Suyoto menuturkan bahwa untuk produk pelet telah ada pembelinya dan siap memesan 40.000 ton per bulan.  

Konsorsium juga akan dibentuk untuk pengembangan pelet, utamanya untuk mendanai pendirian pabrik dan menjamin pasokan bahan baku. Pembentukan konsorsium ditargetkan rampung hingga akhir tahun ini. "Targetnya tahun depan ini sudah bisa produksi dan mulai ekspor," kata Suyoto.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan bahwa sebagai salah satu negara yang memiliki potensi hutan dan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia senang dapat memenuhi kebutuhan biomassa di Jepang.  

Untuk itu, Indonesia terus berusaha menjaga kualitas dan kuantitas produk biomassa agar dapat memenuhi standar yang dibutuhkan pasar Jepang.

"Untuk menjawab tantangan isu keberlanjutan produk biomassa Indonesia di pasar Jepang, perlu ada kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha biomassa Indonesi dan Jepang sehingga Indonesia dapat memanfaatkan peluang eskpor biomassa yang ditawarkan Jepang secara optimal," kata Airlangga.

Sementara itu, Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia Ishii Masafumi mengatakan bahwa Jepang tengah mencanangkan target mengurangi emisi gas buang hampir nol persen pada 2050 dan pencapaian bauran energi baru terbarukan sebesar 22 persen—24 persen pada 2030.  Dengan target ini, pembangkit listrik biomassa di Jepang akan meningkat.

Dia menuturkan bahwa pihaknya siap menfasilitasi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan biomassa di Jepang.  

"Jumlah pembangkit listrik biomassa juga akan meningkat dan sertifikasi FIT [feed-in tariff] juga akan meningkat pesat.  Dengan semakin ketatnya standar sertifikasi FIT, kami akan meningkatkan dukungan teknis yang diperlukan," katanya.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang bioenergi
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top