Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dirjen Migas dan Setumpuk Pekerjaan Rumah

Investasi industri migas dalam negeri sejak 2001 silam trennya terus menurun sehingga perlu pemahaman yang tepat untuk menyelesaikan masalah itu.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 10 November 2020  |  10:31 WIB
Dirjen Migas dan Setumpuk Pekerjaan Rumah
Infografik migas Indonesia dan sejumlah negara. - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Tutuka Ariadji resmi didapuk sebagai Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral setelah dilantik langsung oleh Menteri Arifin Tasrif pada Jumat (6/11/2020).

Pelantikan Dirjen Migas yang baru membawa angin segar untuk industri migas dalam negeri mengingat meja kerjanya telah lama kosong lebih dari satu tahun selepas ditinggal pejabat definitif.

Banyak harapan yang dititipkan di pundak Tutuka sebagai Dirjen Migas baru, salah satunya dari Menteri ESDM Arifin Tasrif yang mengharapkan setelah menjabat, impor bahan bakar minyak dan liquefied petroleum gas dapat ditekan demi meringankan beban devisa negara ke depan.

"Ini bisa dilakukan dengan percepatan pembangunan infrastruktur kilang dan jaringan gas, serta pemanfaatan energi baru terbarukan secara masif, seperti biodiesel dan dimetil eter," kata Arifin.

Arifin juga mengharapkan supata Tutuka mampu mewujudkan beberapa program strategis migas. Salah satunya, program jangka panjang yang menjadi perhatian utama yaitu pemenuhan target produksi siap jual (lifting) minyak sebesar satu juta barel per hari pada 2030.

Menurut Arifin, target itu dapat dicapai dengan mempertahankan tingkat produksi saat ini yang tinggi, transformasi sumber daya ke produksi, menggunakan enhanced oil recovery (EOR), dan melakukan eksplorasi secara masif.

"Rata-rata realisasi lifting migas sampai dengan September 2020 sebesar 1.712 Mboepd [million barrel oil equivalent per day] atau 100 persen dari target APBN-P," jelas Arifin.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (Iatmi), Tutuka merupakan pria kelahiran Solo 26 Agustus 1964 dengan latar pendidikan sarjana di teknik perminyakan ITB, mendapatkan gelar master dan doktor dari Petroleum Engineering-Texas A&M University, dan gelar doktor di tempat yang sama.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan MInyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal Husin mengatakan bahwa Tutuka dinilai menjadi sosok yang tepat untuk mengemban tugas sebagai Dirjen Migas.

Menurut dia, Tutuka dapat mendorong pengembangan EOR hasil karya dalam negeri ini, yang harapannya bisa membantu dalam peningkatan produksi migas nasional karena pemerintah harus secara aktif mendukung pengembangan teknologi ini karena membutuhkan banyak proyek percontohan.

"Posisi dirjen sebagai policy maker, sangat krusial untuk membangun iklim investasi yang kondusif, membantu pekerjaan kementerian dalam meningkatkan investasi, membantu negara untuk mencapai tujuan produksi minyak 1 juta barel per hari," katanya kepada Bisnis, Sabtu (7/11/2020).

Direktur Executive Energi Watch Mamit Setiawan mengatakan bahwa sosok Tutuka bukan merupakan orang baru dalam dunia migas nasional. Dengan latar belakang guru besar perminyakan di ITB setidaknya bisa menjadi bekal untuk membenahi masalah industri migas Tanah Air.

"Terkait dengan penunjukan Tutuka sebagai Dirjen Migas saya kira ini merupakan dealing yang mungkin bisa memuaskan banyak pihak mengingat posisi ini sudah kosong hampir 2 tahun," katanya kepada Bisnis, Sabtu (8/11/2020).

IKLIM INVESTASI

Moshe mengatakan bahwa pekerjaan rumah yang harus dibenahi Tutuka adalah memperbaiki iklim investasi pada industri migas dalam negeri. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan bersama-sama dengan kementerian untuk mengidentifikasi apa yang menjadi masalah bagi investor.

Investasi industri migas dalam negeri sejak 2001 silam trennya terus menurun sehingga perlu pemahaman yang tepat untuk menyelesaikan masalah itu.

"Dari situ formulasikan insentif yang tepat," jelasnya.

Sementara itu, Mamit menilai tugas yang paling besar untuk Dirjen Migas baru adalah meningkatkan investasi sektor migas Indonesia. Di tengah situasi sulit saat ini, dibutuhkan terobosan baru sehingga investor tertarik masuk ke Indonesia.

Selain itu, target 1 juta barel minyak bumi per hari membutuhkan kerja keras dari sekarang sehingga bisa terealisasi nantinya. Dengan demikian, kegiatan eksplorasi juga harus dimasifkan mengingat cadangan migas kita tidak pernah mengalami kenaikan bahkan terus mengalami penurunan.

"Salah satu permasalah investasi migas adalah kepastian hukum di mana revisi UU Migas adalah keharusan untuk disahkan. Ini semua agar investor merasa aman dan nyaman dengan revisi UU Migas ini disahkan. Belum lagi soal perizinan yang masih banyak tumpang tindih harus diperhatikan," ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa tugas lain yang perlu diperhatikan Dirjen Migas adalah program BBM satu harga harus tetap berjalan dan bisa bertambah, begitu juga untuk pembangunan jargas harus dikejar sebagai upaya mengurangi penggunaan subsisi LPG 3 kg.

Di samping itu, permasalahan serapan gas dan minyak yang saat ini sedang berlebih menjadi pekerjaan rumah yang menanti Dirjen Migas untuk segera diselesaikan.

"Harapan saya semoga Dirjen Migas yang baru bisa membawa industri migas kita kembali bergairah ditengah kondisi saat ini yang sedang jatuh. Bisa menghasilkan ide-ide baru yang memang bisa memanjukan sektor migas kita," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas lpg 3 kg Dirjen Migas
Editor : Zufrizal
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top