Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mampukah Indonesia Tumbuh 5 Persen di 2021? Ini Ramalan Luhut hingga Chatib Basri

Tahun 2020 belum berakhir, pejabat hingga pengusaha mulai memaparkan proyeksinya untuk tahun depan. Berikut ramalan mereka.
Maria Elena, M. Nurhadi & Ria T. Situmorang
Maria Elena, M. Nurhadi & Ria T. Situmorang - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  09:03 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Bisnis - Abdullah Azzam
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun 2020 masih tersisa dua bulan lagi, namun sejumlah pejabat, tokoh ekonomi hingga pengusaha sudah mulai meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan.

Jelas, tindakan ini adalah bentuk harapan bahwa krisis Covid-19 akan segera berlalu dan Indonesia bisa kembali pulih tahun depan. Semua seakan tidak sabar berganti tahun dan melihat pemulihan tersebut terealisasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berangsur membaik pada akhir tahun ini seiring ketidakpastan nyang mulai menurun pada Oktober.

"Indonesia sama seperti negara lain, masuk dalam fase pemulihan," ujarnya dalam cara Outlook 2020: The Years of Opportunity yang digelar oleh Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) pada Rabu (21/10/2020).

Dia melihat ekonomi Tanah Air bisa tumbuh di kisaran -1 persen hingga 0,4 persen pada akhir tahun. Tahun depan, Airlangga yakin pertumbuhan akan positif, sesuai proyeksi lembaga internasional yang berada di kisaran 4,5 persen - 5 persen.

Harapan ini juga bergantung pada akses vaksin Indonesia. Saat ini, Indonesia sudah mengantongi komitmen pengadaan dari China, UEA dan AstraZenica.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat hingga 5 persen pada 2021.

Luhut menilai kondisi ekonomi dalam negeri sebenarnya jauh lebih baik di antara beberapa negara seperti India, beberapa negara di Eropa, Amerika Serikat, hingga Singapura yang membukukan kontraksi pertumbuhan ekonomi lebih dalam pada kuartal kedua tahun ini.

“Ini modal pokok kita untuk bisa tumbuh mungkin sekitar 5 persen lebih pada 2021,” ucapnya.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani dan Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani/ Bisnis

Angin harapan juga datang dari pengusaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di rentang 2,5 persen hingga 5,5 persen pada 2021.

“Kami [Apindo] memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2021 adalah berkisar pada posisi terendah 2,5 persen dan tertinggi adalah 5,5 persen,” katanya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang pesat pada tahun depan akan sangat bergantung pengadaan dan efektivitas vaksin Covid-19 yang akan didistribusikan pertama kali oleh pemerintah pada bulan November mendatang.

“Tentu kita juga tidak bisa berharap dari vaksin, tapi juga berharap dari usaha kita sendiri untuk menjaga protokol kesehatan,” sambungnya.

Di sisi lain, Hariyadi menyatakan pengesahan UU Cipta Kerja secara khusus diharapkan berdampak pada klaster ketenagakerjaan di dalam negeri.

Klaster ini, lanjutnya, diharapkan meningkatkan akses tenaga kerja untuk mendapatkan pekerjaan dan mendukung usaha padat karya, usaha mikro kecil dan menengah pada 2021.

Terlalu Optimis

Sayangnya, ekonom senior dari Universitas Indonesia yang juga menjabat menteri keuangan di era Presiden SBY, M. Chatib Basri melihat kondisi yang berbeda.

Chatib menilai sejumlah proyeksi tersebut terlalu optimistis, sementara ekonomi Indonesia masih menghadapi ketidakpastian yang tinggi.

Menurutnya, pengendalian dan penanganan pandemi Covid-19 akan sangat menentukan pemulihan ekonomi ke depan. Saat ini, aktivitas dunia usaha tidak dapat berjalan 100 persen seperti sebelum masa pandemi karena harus menerapkan protokol kesehatan, misalnya saja pada sektor penerbangan, restoran, dan sektor lainnya.

Hal ini menyebabkan kegiatan produksi, ekspansi usaha, hingga investasi masih tertahan. Dengan kapasitas usaha hanya 50 persen, perusahaan harus mengeluarkan biaya tetap atau fixed cost yang sama seperti sebelum pandemi.

"Dalam kondisi itu, perusahaan tidak berminat untuk melakukan investasi. Itu menjelaskan kenapa permintaan terhadap kredit tetap lemah. Dalam kondisi ini, sulit mengharapkan ekspansi produksi akan terjadi selama pandemi masih berlangsung," katanya, Rabu (21/10/2020).

Menurut Chatib, kondisi ini pun masih akan berlangsung hingga 2021. Dengan pandemi yang masih berlangsung, kapasitas bisnis yang bisa beroperasi kemungkinan kanya 70 persen.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk./ Bisnis

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5 persen, artinya aktivitas ekonomi sudah harus beroperasi secara normal atau 100 persen. Namun kondisi ini dinilai tidak memungkinkan karena dengan adanya vaksin pun, proses vaksinasi membutuhkan waktu yang lama.

"[Aktivitas] ekonomi tidak akan beroperasi 100 persen selama pandemi Covid-19 masih ada. Angkanya akan di bawah 5 persen," jelasnya.

Jika kegiatan bisnis hanya bisa beroperasi dengan kapasitas 70 persen, maka Chatib menghitung perekonomian Indonesia hanya bisa tumbuh pada kisaran 3,5 persen hingga 4 persen pada 2021.

Sebagai catatan, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2021 tumbuh 5,3 persen. Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) dan World Bank memperkirakan ekonomi Tanah Air akan berada pada kisaran 6,1 dan 4,8 persen tahun depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chatib basri apindo pertumbuhan ekonomi indonesia Luhut Pandjaitan
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top