Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19, ARFI : Produksi Baja Ringan 2020 Pasti Turun

Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) meramalkan volume produksi sepanjang 2020 berpeluang terkoreksi hingga dua digit. Pasalnya, pasar baja ringan domestik hilang selama 2 bulan pada awal pandemi Covid-19.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  16:38 WIB
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding.  - ARFI
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding. - ARFI

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) meramalkan volume produksi sepanjang 2020 berpeluang terkoreksi hingga dua digit. Pasalnya, pasar baja ringan domestik hilang selama 2 bulan pada awal pandemi Covid-19.

Ketua Umum ARFI Stephanus Koeswandi mengatakan tren permintaan pada paruh kedua 2020 akan mengikuti tren tahun-tahun sebelumnya. Dengan kata lain, permintaan baja ringan akan terus meningkat selama 6 bulan terakhir 2020.

Adapun, utilisasi pabrikan kini telah berada di posisi 85 persen. Walakin, anjloknya utilisasi industri roll forming pada April-Mei ke posisi 30 persen membuat dampak permanen terhadap total volume produksi sepanjang 2020.

"Bisa mengejar atau paling tidak sama dengan 2019 itu sudah sangat baik. Cuma, prediksi saya [volume produksi 2020] akan turun 7-10 persen dibandingkan tahun lalu. Tapi, itu sudah cukup baik," katanya kepada Bisnis, Kamis (15/10/2020).

Stephanus menyatakan penurunan pada April-Mei 2020 utamanya disebabkan oleh penghentian pengerjaan pembangunan rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan. Artinya, penurunan permintaan tersebut didorong oleh penghentian konstruksi rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Alhasil, total produksi baja ringan hingga akhir tahun akan mencapai sekitar 1,3 juta ton dari realisasi 2019 sebanyak 1,5 juta ton. Namun demikian, Stephanus optimistis permintaan akan terus naik di kuartal IV/2020 mengingat banyak pengembang yang akan menyelesaikan proyek konstruksi tahun ini.

Stephanus yang juga menjabat sebagai Vice President PT Tata Metal Lestari sebelumnya menyatakan utilisasi lini produksi atap metal dan profil baja ringan pabriknya hampir mencapai 100 persen karena tingginya permintaan kedua produk tersebut.

Adapun, kedua produk tersebut dipesan untuk berkontribusi dalam proyek konstruksi rumah sakit berskala nasional dan daerah, serta rumah bagi korban bencana alam.

Seperti diketahui, Tata Metal menggunakan sekitar 60 persen hasil produksi CRC untuk kembali diolah menjadi atap metal maupun profil baja ringan. Sementara itu, 40 persen lainnya dibagi rata untuk dipasarkan ke industri pengguna lokal dan global.

Sementara itu, produksi atap metal mendominasi produksi hilir perseroan hingga 60 persen. Dengan kata lain, produksi profil baja ringan sejauh ini hanya berkontribusi sekitar 40 persen dari total produksi baja hilir perseroan.

"Saya sempat menolak juga permintaan-permintaan memasok [komponen konstruksi] untuk proyek APBN dan APBD, tapi harus diutamakan [keutuhan] domestik dulu [sebelum pasar ekspor]," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga material bangunan baja ringan
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top