Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sagu Bisa Jadi Solusi Kedaulatan Pangan Indonesia

Indonesia memiliki ragam bahan pangan lokal dan ragam budaya pangan yang bervariasi, tetapi sampai hari ini masyarakat kita masih sangat bergantung pada konsumsi beras dan gandum.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 Oktober 2020  |  16:36 WIB
Perkebunan sagu terbesar berada di Meranti. ANTARA
Perkebunan sagu terbesar berada di Meranti. ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA--Indonesia memiliki ragam bahan pangan lokal dan ragam budaya pangan yang bervariasi, tetapi sampai hari ini masyarakat kita masih sangat bergantung pada konsumsi beras dan gandum.

Ketergantungan terhadap konsumsi beras dan gandum membuat Indonesia rentan dengan risiko ketahanan pangan di tengah berbagai krisis yang terjadi secara global.

Berbagai data dari Badan Pusat Statistik dan Bahan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian yang mengungkapkan bahwa konsumsi beras dan gandum Indonesia sangat tinggi.

Badan Ketahanan Pangan mencatat pada 2019 konsumsi beras mencapai lebih dari 95 kg per kapita per tahun, sementara konsumsi gandum dan produk turunannya meningkat dari 10 kg pada 2013 menjadi 18 kg per kapita per tahun.

Ketersedian kedua bahan pangan ini tidak dapat selalu dipenuhi mengingat padi dan gandum bukan tanaman asli sebagian besar lahan di Indonesia sehingga sangat rentan dengan berbagai krisis dan negara harus melakukan impor dalam jumlah besar.

Padahal, Indonesia punya bahan baku pangan lokal yang lebih sustainable dan tersedia dalam jumlah banyak serta berpotensi memperkuat kedaulatan pangan Indonesia, salah satunya adalah sagu.

"Untuk menjawab tantangan ini perlu kita dorong program pangan lokal nusantara yakni dengan mengkampanyekan sagu, di antara bahan pangan lokal lain, sebagai pengganti beras dan gandum," ujar Direktur Program Yayasan KEHATI Rony Megawanto dalam webinar 'Sagu sebagai Solusi Krisis Global', Minggu (11/10).

Apalagi dengan krisis pandemi Covid-19 yang kita alami sekarang, secara global telah mendorong semua negara untuk melakukan proteksi pangan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri.

Menjaga pola konsumsi beras dan gandum dapat menjadi permulaan yang baik, meski demikian tetap diperlukan sebuah kebijakan yang dapat mengatur permintaan dan produksi.

Sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang paling resilien terhadap perubahan iklim karena sesuai dengan vegetasi alam tempat dia tumbuh, yakni di kawasan tropis.

Pada 2017, total produksi sagu mencapai sebesar 348.000 ton dengan tiga provinsi penghasil sagu terbesar yakni Riau (327.000 ton), Papua (29.000 ton) dan Maluku (9.000 ton).

Sementara itu, sagu banyak ditemukan di Papua dan Papua Barat dengan luas lahan hutan sagu lebih dari 5 juta hektare, meliputi keragaman genetik sagu terbesar yang ada di dunia, sehingga pakar menduga bahwa tanaman ini berasal dari Papua.

Pelopor Kemasyarakatan Sagu dan Dosen Gastronomi STP Trisakti Saptarining Wulan menyebutkan bahwa sagu memiliki cadangan karbo yang melimpah serta dapat dibudidayakan dengan mudah karena kecocokan genetiknya.

"Sagu ini jumlahnya banyak tapi belum dimanfaatkan secara maksimal, bukan hanya untuk pangan, tapi industri turunannya sangat banyak bahan baku beras sagu (beras analog), industri, energi, dan lain-lain," katanya.

Keunggulan sagu selain dapat dikembangbiakkan dengan mudah, bahkan tanpa pupuk sekalipun, adalah tanaman ini merupakan tanaman pengumpul air sehingga lebih resilien terhadap perubahan iklim.

Tanaman sagu juga dapat tumbuh tanpa replanting, produktif sepanjang tahun dan satu pohon dapat menghasilkan hingga 200 kilogram - 800 kilogram pati sagu.

Walaupun sagu memiliki kadar protein rendah, hal ini menjadikan sagu lebih tahan lama untuk disimpan.

Sampai dengan 2019 konsumsi pangan sagu sangat kecil, yakni hanya 0,4 kg - 0,5 kg per kapita per tahun jika dibandingkan dengan beras dan gandum.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

food estate Hutan Sagu
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top