Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

LIPI : Ini Cara Menyulap Kayu Kualitas Rendah Jadi Top

Berdasarkan data dari Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan Departemen Kehutanan, Indonesia memiliki 3.124 jenis kayu yang terdiri dari kayu komersial, nonkomersial, tak dikenal, dan jenis kayu budi daya.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 08 Oktober 2020  |  12:27 WIB
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit.  - Antara/Mansyur S
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S

Bisnis.com, JAKARTA - Berdasarkan data dari Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan Departemen Kehutanan, Indonesia memiliki 3.124 jenis kayu yang terdiri dari kayu komersial, nonkomersial, tak dikenal, dan jenis kayu budi daya.

Akan tetapi, banyak di antaranya merupakan pohon kayu yang kurang dikenal, dan cepat bertumbuh tetapi pemanfaatannya kurang lantaran kualitasnya rendah.
 
”Sejak 1990 penelitian intensif mengenai jenis-jenis kayu kurang dikenal dan cepat tumbuh telah ada dan beberapa jenis kayu yang telah diteliti di antaranya adalah Gmelina, Mindi, Gadog, dan Cengkeh,” kata Wahyu Dwianto dalam keterangan pers LIPI, Kamis (8/10/2020).

Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menyampaikan bahwa kendala pada pemanfaatan jenis-jenis kayu kurang dikenal dan cepat tumbuh adalah kualitasnya yang rendah.

“Penelitian dan pengembangan teknologi densifikasi dan pelengkungan kayu bertujuan membuat jenis-jenis kayu yang berkualitas rendah menjadi berkualitas baik serta dapat menggantikan jenis kayu yang memang sudah berkualitas baik,” ujarnya dalam orasi pengukuhan Profesor Riset berjudul Pengembangan Teknologi Densifikasi dan Pelengkungan Kayu untuk Meningkatkan Pemanfaatan Jenis-jenis Kayu Kurang Dikenal dan Cepat Tumbuh, Selasa (6/10/2020).
 
Menurutnya, teknik densifikasi kayu adalah teknik pengepresan kayu utuh yang bertujuan untuk meningkatkan kestabilan dimensi, kekerasan permukaan dan kekuatan kayu dengan meningkatkan kerapatannya.

Dia menambahkan teknik lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan teknologi pelengkungan kayu atau Laminated Veneer Lumber (LVL). Teknologi ini dilakukan dengan cara melunakkan kayu sehingga lebih mudah dibentuk menjadi lengkung.
 
“Teknologi densifikasi kayu, jenis-jenis kayu cepat tumbuh dapat ditingkatkan sifat fisik, mekanik, dan kekerasan permukaannya melalui peningkatan kerapatan,” ujar jelas Wahyu yang memiliki bidang kepakaran ilmu kayu dan teknologi hasil hutan.

Adapun masalah pemborosan bahan baku kayu pada pembuatan produk-produk kayu berbentuk lengkung dapat diatasi dengan teknologi pelengkungan kayu.

Saat ini melalui teknologi densifikasi, jenis-jenis kayu kurang dikenal dan cepat tumbuh dapat diolah menjadi banyak produk. “Produk-produk yang dihasilkan teknologi densifikasi diantaranya lantai kayu atau bahan bangunan lainnya sedangkan melalui teknologi pelengkungan, telah dihasilkan produk mebel berbentuk lengkung, rangka sepeda, dan produk inovatif lainnya."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kayu furniture meubel
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top