Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Denyut Daya Beli Lemah, Inflasi Tahun 2020 Diproyeksi Melandai ke 2,5 Persen

Landainya laju inflasi 2020 ini dipicu oleh tekanan inflasi dari sisi penawaran yang melemah karena bertambahnya pasokan barang dan jasa sejalan dengan pembukaan sektor-sektor perekonomian secara bertahap.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  09:55 WIB
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). -  ANTARA / Sigid Kurniawan
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). - ANTARA / Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI memprediksi inflasi pada akhir 2020 akan berada pada kisaran 2,5 persen.

"IKS memprakirakan inflasi akan berada di angka 2,5 persen secara tahunan [year-on-year/yoy] per akhir tahun 2020," katanya dalam siaran pers yang dikutip Bisnis, Senin (5/10/2020).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2020 mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara month-to-month (mtm). Secara tahunan (year on year/yoy), IHK mengalami inflasi 1,42 persen.

Terjadinya deflasi disebabkan oleh penurunan harga barang-barang kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok pengeluaran ini merupakan kontributor utama deflasi pada September 2020.

Menurut Eric, deflasi pada periode tersebut disebabkan oleh lemahnya tekanan inflasi dari sisi permintaan karena masih lemahnya daya beli masyarakat.

Sementara itu, tekanan inflasi dari sisi penawaran juga melemah karena bertambahnya pasokan barang dan jasa sejalan dengan pembukaan sektor-sektor perekonomian secara bertahap.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memperkirakan deflasi masih akan berlanjut pada Oktober mendatang karena daya beli masyarakat masih sangat tertekan.

Bahkan, Faisal memproyeksi inflasi pada tahun ini akan berada pada kisaran yang rendah, yaitu sebesar 1,1 persen. Proyeksi ini jauh lebih rendah dari target batas bawah Bank Indonesia yang sebesar 2 persen.

"Itu pola yang akan terjadi dan Oktober ini saya prediksikan deflasi lagi, hanya di November dan Desember ada inflasi tipis, jadi total setahun inflasi 1,1 persen," katanya.

Faisal mengatakan hal utama yang harus dilakukan pemeritah dalam program PEN sekaligus mendorong pemulihan ekonomi adalah penanggulangan wabah virus Corona.

Pasalnya, keberhasilan penanggulangan dan pengendalian wabah akan menjadi kunci penting dalam peningkatan konsumsi, khususnya untuk masyarakat kelas menengah ke atas yang berkontribusi sekitar 50 persen terhadap total konsumsi nasional.

"Upaya preventif pemerintah belum maksimal, misalnya realisasi anggaran masih sangat kecil, padahal kebutuhannya besar sekarang," ujarnya.

Faisal menambahkan, seharusnya, jika fokus pemerintah menanggulangi kesehatan, beberapa hal bisa dilakukan untuk menahan laju penyebaran Covid-19, seperti pembagian masker gratis kepada masyarakat dan pemberian tes Covid-19 secara gratis. Namun hingga saat ini, hal tersebut tidak dilakukan pemerintah.

"Oleh karenanya konsumsi belum bisa pulih, program PEN bansos bisa menahan anjloknya daya beli, tapi bukan meningkatkan dan kontribusinya rendah, jadi sangat bisa dimengerti jika terjadi deflasi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi deflasi ekonomi indonesia
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top