Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kemenperin Ajak PLN Godok Insentif PLTSa Bagi Pabrikan

Kementerian Perindustrian akan berdiskusi dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk merancang insentif agar pabrikan mau membangun fasilitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT).
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 30 September 2020  |  20:33 WIB
Suasana instalasi panel surya dari ketinggian di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (27/8/2020). Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya ini sebagai upaya mendukung penggunaan energi yang ramah lingkungan, efektif dan efisien. Bisnis - Himawan L Nugraha
Suasana instalasi panel surya dari ketinggian di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (27/8/2020). Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya ini sebagai upaya mendukung penggunaan energi yang ramah lingkungan, efektif dan efisien. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian akan berdiskusi dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk merancang insentif agar pabrikan mau membangun fasilitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT).

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan insentif diperlukan agar pembangunan fasilitas pemebangkit EBT, khususnya panel surya, dapat lebih banyak guna menggapai target pengurangan emisi CO2.

"Ada masalah yang perlu diselesaikan dengan PLN. Ini supaya didorong [agar] ada insentif sehingga industri makanan dan minuman [lainnya] tertarik [membangun fasilitas panel surya]. Kalau tidak ada insentif, tidak bisa menarik ini," katanya kepada Bisnis seusai peluncuran Panel Surya Terbesar Milik PT Coca-Cola AMatil Indonesia di Cikarang Barat, Rabu (30/9/2020).

Rochim menilai insentif terkait pembangunan pembangkit EBT diperlukan lantaran nilai investasi awalnya yang besar. Adapun, Coca-cola Amatil mengucurkan Rp87 miliar untuk membangun panel surya seluas 72 hektare dengan kapasitas produksi energi 7,13 Megawatt peak.

Adapun, investasi tersebut akan menghasilkan energi sebanyak 9,6 juta Kilowatt per tahun. Selain itu, investasi panel surya terbesar di Asia Tenggara tersebut akan mengurangi emisi karbon sebanyak 8,9 juta Kilogram per tahun atau setara dengan pengurangan7.000 kendaraan roda empat per tahun.

Presiden Direktur Coca-cola Amatil Indonesia Kadir Gunduz mengataan penggunaan atap panel surya dalam fasilitas pabriknya selain bertujuan untuk mengurangi jejak karbon dari proses produksi. Adapun, lanjutnya, panel surya yang dipasang di atap pabrikan tersebut akan mampu menggantikan sekitar 13% dari kebutuhan listrik yang disuplai oleh PLN.

"Kami akan memperluas penggunaan atap panel surya di seluruh Pabrik kami di Indonesia, terdekat adalah Medan, Semarang dan juga surabaya," katanya.

Peasangan panel surya di atap pabrikan Coca-cola Amatil Indonesia di tiga wiilayah tersebut diramalkan akan menghasilkan daya sekitar 6 Mewgawatt peak. Namun demikian, Gunduz masih enggan menyampaikan nilai investasi yang akan dikucurkan pihaknya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, UU Ruzhanul Ulum mengatakan, atas nama masyarakat dan pemerintah Jawa Barat pihaknya mengapresiasi langkah penggunanaan EBT oleh Coca-Cola.

Menurut dia, penggunaan atap panel surya bisa menjadi solusi di tengah ketersediaan energi konvensinal yang semakin hari semakin menipis. "PLTS atap akan mengurangi polusi udara yang dirasakan. Semoga diikuti perusahaan lain yang ada di Jawa Barat," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ebt pltsa
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top