Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gakoptindo Desak Pemerintah Awasi Ketat Kualitas Kedelai Impor

Menurut Ketua Gakoptindo Aip Syarifuddin, kehadiran kedelai impor grade 2 ke bawah sangat meresahkan pengrajin tahu dan tempe.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 16 September 2020  |  18:30 WIB
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo) mendesak pemerintah lebih mengawasi peredaran kedelai impor. Sepanjang semester I/2020, kehadiran kedelai impor dengan kualitas di bawah rata-rata amat meresahkan pengrajin tahu dan tempe.

"Ini baru kami mengusulkan agar pemerintah mengatur [impor kedelai]. Karena baru-baru ini banyak importir nakal yang menjual kedelai dari Amerika Serikat dengan kualitas grade 2, grade 3, grade 4. Padahal grade 2 ke bawah itu bukan kualitas konsumsi," tutur Ketua Gakpotindo Aip Syarifuddin kepada Bisnis, Rabu (16/9/2020).

Kedelai dengan kualitas rendah itu, kata Aip, acap diperdagangkan dengan harga pada rentang Rp6.000 hingga Rp7.000. Karena selisih harga yang tak begitu jauh dengan kedelai grade 1, pada akhirnya banyak pengrajin tergiur membeli.

Padahal, olahan tempe dan tahu dengan kedelai grade 2-4 akan membuat produk lebih cepat busuk. Rasa dan kualitas produk hasil kedelai jenis ini juga jauh lebih buruk.

"Kami di kalangan pengrajin itu kan terus terang banyak yang masih belum cukup edukasi. Akhirnya ingin untung tapi malah buntung. Jadi kami mohon agar pemerintah lebih memperhatikan. Selama ini belum ada aturan dan larangannya," sambung Aip.

Gakoptindo berharap dengan lebih dijaganya kualitas, kondisi lesu yang dialami pengrajin dan pedagang tempe tidak berujung lebih parah.

Saat ini para pengrajin tahu dan tempe tengah digoyang cobaan dalam pentuk permintaan pasar yang turun drastis. Penutupan sebagian besar industri kuliner di tengah pembatasan sosial akibat pandemi adalah pemicu utamanya.

Tidak cuma itu, sentimen naiknya harga impor kedelai dan pelemahan kurs rupiah juga bikin pengrajin tahu dan tempe terancam semakin mengalami penurunan omzet.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai kedelai tempe
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top