Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsumsi Beras Ditargetkan Turun 1,77 Juta Ton pada 2024

Khusus tahun 2020, rata-rata konsumsi beras ditargetkan turun ke posisi 92,9 per kg per kapita per tahun dari posisi tahun lalu sebesar 94,9 per kg per kapita per tahun.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 September 2020  |  17:59 WIB
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan tingkat konsumsi beras secara nasional turun sebesar 7 persen menjadi 85/kg/kapita per tahun hingga 2024.

Sekretaris Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Riwantoro mengatakan penurunan konsumsi beras sebesar itu setara 1,77 juta ton atau senilai Rp17,78 triliun.

"Namun dengan catatan, penurunan konsumsi beras bisa dicapai asalkan ada intervensi dari pemerintah. Tanpa intervensi, penurunan konsumsi beras hanya mampu mencapai posisi 91,2 per kg per kapita per tahun," katanya, dikutip dari Antara, Rabu (9/9/2020).

Khusus tahun 2020, lanjutnya, rata-rata konsumsi beras ditargetkan turun ke posisi 92,9 per kg per kapita per tahun dari posisi tahun lalu sebesar 94,9 per kg per kapita per tahun.

"Kami targetkan ada satu penurunan pangan beras kita dan itu harus diikuti dengan kenaikan konsumsi pangan lokalnya. Peluang diversifikasi besar karena masyarakat ingin hidup sehat dan terdapat peluang bisnis UMKM," ujarnya.

Terkait program diversifikasi atau penganekaragaman pangan, Riwanto menyatakan BKP memiliki strategi jangka menengah dan jangka panjang untuk mewujudkannya.

Riwantoro menyebutkan diversifikasi pangan bertujuan mengantisipasi krisis, penyediaan pangan alternatif, menggerakan ekonomi dan mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dengan sasaran menurunkan ketergantungan konsumsi beras.

Saat ini, setiap provinsi difokuskan memproduksi panganan lokal selain beras. Setidaknya ada enam komoditas pangan yang digenjot produksinya antara lain ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan sorgum.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB University Dr. Sahara menuturkan pandemi Covid-19 menjadi momentum tepat untuk mempercepat diversifikasi pangan.

"Karena itu, pola pangan harus diubah bahwa beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Selama ini, pemerintah masih terlalu fokus pada pengembangan pangan jenis beras. Padahal, Indonesia memiliki ragam jenis pangan yang sangat berlimpah," katanya.

Menurutnya, Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri mengatakan ada potensi pangan lokal yang luar biasa dalam mendukung program diversifikasi pangan.

"Kita memiliki pangan lokal di luar beras. Program diversifikasi membantu masyarakat Indonesia swasembada pangan," katanya.

Dia mengemukakan pentingnya upaya untuk mendorong pasar guna memperkenalkan produk pangan lokal sehingga menarik semua orang untuk mengkonsumsinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementan produksi beras

Sumber : Antara

Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top