Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menilai upaya pemerintah menata ulang bandara internasional menjadi lebih efisien dan dapat mendukung pariwisata kedepannya.
Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto menuturkan fokus penataan kembali bandara bukan kepada seberapa banyak mencabut status internasional yang dimiliki melainkan karena saat ini banyak bandara dengan status tersebut tetapi justru tidak memiliki penerbangan internasionalnya.
Bayu berpendapat penataan kembali bandara ini akan bagus untuk wisata dan penerbangan karena bandara-bandara dengan status internasional akan menjadi lebih ramai pergerakannya. Oleh karena itu, saat ini, asosiasi juga masih menunggu pengaturan bandara internasional yang baru.
“Pesan sebenarnya bukan mengurangi bandara internasional tapi mengatur ulang supaya efisien dan benar mendukung pariwisata ke depannya,” jelasnya, Kamis (3/9/2020).
Menurut Bayu pemerintah memang harus menyempurnakan implementasi konsep hub dan superhub dengan beberapa bandara pusat. Diantaranya pemerintah harus menentukan bandara yang berpotensi menjadi internasional hub dengan pembagian fungsi sesuai letak geografis dan karakteristik suatu wilayah.
"Berdasarkan jumlah destinasi wisata, di wilayah kota, wilayah perbatasan, pusat industri atau bisnis. Maka, jumlah bandara internasional mestinya tidak sebanyak yang sekarang ada," jelas dia.
Baca Juga
Sementara itu saat ini lalu lintas angkutan udara di 19 bandara PT Angkasa Pura II (Persero) pada Agustus 2020 mengalami peningkatan dibandingkan dengan pada bulan sebelumnya.
Jumlah penerbangan pada Agustus 2020 tercatat 25.041 penerbangan atau naik 17 persen dibandingkan dengan Juli 2020 sebanyak 21.431 penerbangan.
Sementara itu, jumlah pergerakan penumpang meningkat hingga 38 persen menjadi 2,10 juta orang dari sebelumnya 1,52 juta orang.