Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Selamatkan Industri TPT, Ini Sederet Upaya Kemenperin

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan akan terus sejalan dengan pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang tengah kembali mengupayakan pemulihan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 26 Agustus 2020  |  13:06 WIB
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen. Akibat pandemi Covid-19 juga membuat industri TPT mencatatkan lapangan usaha terkontraksi sebesar 1,24 persen secara tahunan pada kuartal I/2020.  - M Risyal Hidayat
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen. Akibat pandemi Covid-19 juga membuat industri TPT mencatatkan lapangan usaha terkontraksi sebesar 1,24 persen secara tahunan pada kuartal I/2020. - M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan akan terus sejalan dengan pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang tengah kembali mengupayakan pemulihan.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Dody Widodo mengatakan tentunya semua pihak sepakat ingin mengembalikan kejayaan industri TPT seperti pada masa 1980-an. Sayangnya, hingga periode 2000-an industri TPT tidak pernah memperbarui mesin yang menjadi alat utama produksinya.

Sisi lain, sebagai penggerak mesin produksi, efisiensi biaya energi sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, Kemenperin pun terus mengusulkan biaya yang murah untuk industri.

"Kami sudah minta pengurangan biaya minimal yang 40 jam dan sudah disetujui tinggal implementasinya," katanya dalam Webinar bertema Penyelamatan Industri TPT Nasional, Rabu (26/8/2020).

Dody melanjutkan Kemenperin juga tengah menyiapkan bigdata yang nantinya akan menjadi hub textile dan dapat dimanfaatkan seluruh pelaku industri hingga konsumen serta menghasilkan supplay chain. Hal itu juga akan bermanfaat sebagai dasar dalam perumusan kebijakan ke depan.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan menyiapkan kawasan industri tekstil di Batang, Subang, dan Majalengka seluas 2.000 hektare.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh menambahkan pihaknya juga akan kembali melanjutkan program peremajaan mesin produksi TPT pada tahun depan. Program ini akan mengacu pada bigdata yang nantinya sudah berjalan.

"Saat ini akan mengacu pada industri 4.0 dan efisiensi lingkungan jadi kami akan kolaborasikan satu data untuk tekstil," ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mendata neraca perdagangan industri TPT pada akhir 2019 mencapai US$3,49 miliar. Angka tersebut lebih rendah sekitar 23 persen dari realisasi akhir 2018 yakni senilai US$4,59 miliar.

Masih berdasar data BPS, pada Januari-Mei 2020 hampir seluruh volume impor produk TPT turun rata-rata 17,47 persen secara tahunan. Adapun, pada periode tersebut hanya produk benang yang mencatatkan pertumbuhan volume impor sebesar 1.02 persen menjadi 52.504 ton.

Berdasarkan data Kemenperin, penyumbang neraca dagang TPT terbesar per 2019 adalah industri pakaian jadi yakni senilai US$7,29 miliar dan diikuti oleh industri pemintalan senilai US$1,45 miliar.

Adapun, defisit neraca terbesar ada pada industri antara TPT seperti weaving, knitting, dyeing, printing, dan finishing yakni senilai US$3,63 miliar. Sementara itu, industri serat dan tekstil lainnya masing-masing mencatatkan defisit senilai US$0,95 miliar dan US$0,67 miliar.

Akibat pandemi Covid-19 juga membuat industri TPT mencatatkan lapangan usaha terkontraksi sebesar 1,24 persen secara tahunan pada kuartal I/2020. Adapun, angka tersebut berakselerasi menjadi 14,23 persen secara tahunan pada kuartal II/2020.

Di samping itu, Kemenperin memprognosa pertumbuhan industri TPT akan terkontraksi sekitar 1 persen pada akhir tahun lantran hilangnya permintaan di kuartal II/2020 yang notabenenya terdapat pasar Lebaran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kawasan industri Industri Tekstil restrukturisasi mesin
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top