Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Semester II/2020, Tren Belanja Iklan Diprediksi Meningkat

The Nielsen Company menilai realisasi pada semester I/2020 mencerminkan adanya harapan tren belanja iklan bakal menjadi semakin baik pada semester II/2020.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  20:08 WIB
Ilustrasi digital marketing - CC0
Ilustrasi digital marketing - CC0

Bisnis.com, JAKARTA - Belanja iklan di semua tipe media Tanah Air mulai membaik pada Juli 2020 setelah bergerak fluktuatif selama semester I/2020 akibat pasar wait and see atas upaya pemerintah menerapkan new normal. Tren tersebut diharapkan menjadi tanda-tanda baik pada semester II/2020.

Berdasarkan laporan The Nielsen Company Selasa (25/8/2020), belanja iklan pada Juli 2020 mencapai Rp18,3 triliun berdasarkan gross red card atau naik 17 persen dari bulan sebelumnya denagn belanja iklan secara keseluruhan mencapai Rp15,7 triliun.

Executive Director Nielsen Media Indonesia Hellen Katherina mengatakan naiknya belanja iklan pada Juli 2020 disebabkan oleh membaiknya kepercayaan diri para pengiklan setelah wait and see selama Juni.

"Pada awal Juni 2020, pemerintah menyosialisasikan new normal. Dengan ini belanja iklan mulai naik. Namun, para pengiklan dan pebisnis masih wait and see. Apa dampaknya? Pada Juli kepercayaan diri pengiklan membaik dan belanja iklan meningkat. Semoga ini menjadi tanda-tanda awal recovery," ujar Hellen dalam konferensi pers virtual, Selasa (25/8/2020).

Secara total, belanja iklan dari Januari sampai dengan Juli 2020 di semua tipe media senilai Rp122 triliun, meningkat drastis dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp78,4 triliun.

Televisi masih menjadi spot favorit. Nilai iklan di 15 saluran televisi nasional mencapai total Rp88,2 triliun atau sebesar 72 persen dari pangsa pasar. Setelah televisi, belanja iklan terbanyak dilakukan di ranah digital, yakni 200 website dengan nilai Rp24,2 triliun (20 persen).

Selanjutnya, sebanyak 148 media cetak berhasil meraup Rp9,6 triliun atau 8 persen dari keseluruhan pangsa pasar dan disusul oleh radio dengan nilai belanja iklan Rp604 miliar atau 1 persen dari pangsa pasar.

Adapun, pengiklan dengan belanja terbesar pada Juli 2020 berasal dari media televisi dan digital. Di antaranya, online service dengan total belanja Rp2,5 triliun atau naik 73 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya; facial care Rp1,4 triliun (+161 persen YoY); hair care Rp1,1 triliun (+51 persen YoY); teh dan kopi Rp731 miliar (+28 persen YoY); serta makanan dan mie instan Rp723 miliar (+54 persen YoY).

"Overall, belanja iklan secara gross rate card meningkat, bahkan naik double digit," kata Hellen.

Sebagai informasi, tren belanja iklan bergerak fluktuatif di sepanjang semester I/2020. Pada kuartal I/2020, belanja iklan bergerak positif secara bulanan. Pada Januari, belanja iklan sebesar Rp15,4 triliun. Naik menjadi Rp17,5 triliun pada Februari, dan kembali naik pada Maret menjadi Rp20,4 triliun.

Pada kuartal II/2020, belanja iklan mulai turun akibat pandemi virus corona melanda. Bahkan, pada Juni nilai belanja iklan turun menjadi Rp15,7 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nielsen iklan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top