Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Duh, Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif Masih Merana  

Anjloknya permintaan kendaraan bermotor pada kuartal II/2020 membuat banyak pabrikan gulung tikar.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 23 Agustus 2020  |  17:11 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Walaupun utilisasi pabrikan membaik, Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) menyatakan kondisi industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif masih belum membaik. 

Ketua Dewan Pengawas PIKKO Wan Fauzi menyampaikan anjloknya permintaan kendaraan bermotor pada kuartal II/2020 membuat banyak pabrikan gulung tikar. Pasalnya, kekuatan arus kas IKM komponen otomotif notabenenya mengandalkan waktu perputaran uang yang singkat. 

"Akibat [anjloknya permintaan] dari Mei itu akibatnya ada [pabrikan] yang tutup. Walaupun [utilisasi]  naik, itu karena perpindahan permintaan dari yang tutup ke yang masih buka. Tapi, [efek maranya IKM komponen otomotif yang tutup] akan terasa nanti," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini. 

Fauzi berujar pelaku IKM komponen otomotif telah mengurangi tenaga kerja sekitar 30-40 persen per pabrikan. Menurutnya, rata-rata pengurangan tenaga kerja selama 3 bulan terakhir adalah 20 persen dari total tenaga kerja di IKM komponen otomotif. 

Walakin, presentase tersebut hanya menghitung pegawai tetap. Jika memasukkan tenaga kerja kontrak, presentase pengurangan tenaga kerja bisa menembus level 50 persen. 

"[Pengurangan tenaga kerja] seluruhnya bisa sampai 1 juta orang. Kalau APM [Agen Penjual Mobil] bisa bertahan karena dia maish bagus keuangannya. Kalau [IKM] yang pas-pasan, ada yang sampai tutup," ucapnya. 

Fauzi menyatakan utilisasi pabrikan anjlok ke bawah 10 persen per Mei 2020 lantaran tidak ada permintaan sama sekali di pasar. Adapun, utilisasi pabrikan IKM komponen otomotif kini sudah membaik ke level 50 persen.

Fauzi menyatakan IKM komponen otomotif masih terseok akibat terkurasnya modal kerja pabrikan sekitar 3 bulan oleh gaji karyawan, dan beban produksi lainnya, sedangkan mesin pabrikan masih belum menyala.

Seperti diketahui, Bank Indonesia telah menurunkan ketentuan uang muka pembelian kendaraan bermotor menjadi 0 persen. Beleid tersebut dinilai akan menggenjot permintaan komponen otomotif pada 2021. 

Oleh karena itu, Fauzi mengusulkan agar pemerintah memberikan stimulus baru kredit erbunga rendah khusus untuk IKM komponen otomotif. Fauzi menilai hal tersebut diperlukan lantaran IKM komponen otomotif jgua memiliki karakteristik usaha padat modal.

Pemerintah telah mengatur nilai pinjaman maksimum untuk program kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp500 juta. Namun demikian, Fauzi menyatakan per IKM komponen otomotif saat ini membutuhkan kredit sekitar Rp10 miliar-Rp20 miliar, namun tetap dengna bunga rendah maksimal 6%. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur otomotif ikm Utilitas
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top