Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pulihkan Ekonomi, Apindo: Implementasi Kebijakan Perlu Dipercepat

Apindo menilai implementasi kebijakan dari pemerintah untuk memulihkan kembali perekonomian harus dipercepat sesuai arahan Presiden Joko Widodo.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 14 Agustus 2020  |  12:37 WIB
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (kedua kanan) bersama dengan Sekretaris Umum Eddy Hussy (kiri) dan Wakil Ketua Umum Shinta Widjaja Kamdani (kanan) saat Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO 2020 yang dilakukan secara virtual di Jakarta, Rabu (12/8/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani (kedua kanan) bersama dengan Sekretaris Umum Eddy Hussy (kiri) dan Wakil Ketua Umum Shinta Widjaja Kamdani (kanan) saat Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO 2020 yang dilakukan secara virtual di Jakarta, Rabu (12/8/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menilai bahwa kecepatan implementasi dari kebijakan pemerintah masih menjadi perhatian untuk menghidupkan kembali (re-booting) ekonomi sesuai arahan Presiden, Joko Widodo.

“Kalau kebijakan sudah sesuai jalur, hanya masalahnya sekarang kecepatan implementasinya dan juga pemahaman dari seluruh aparat petugas negara ini, jadi kalau mereka itu paham [arahan] itu akan mempercepat [pemulihan], tetapi kalau tidak [paham] itu akan jadi masalah,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Jumat (14/8/2020).

Dia menanggapi bahwa mengenai re-booting ekonomi Tanah Air yang disampaikan Jokowi, permasalahan ekonomi yang paling signifikan saat ini adalah terjadi penurunan permintaan yang sangat besar, karena pembatasan aktivitas.

“Nah, ini mengakibatkan hampir semua negara terdampak, bahkan beberapa lumpuh. Hal ini karena tidak ada kemampuan untuk bisa bertahan. Menurut saya, yang paling krusial pertama adalah re-booting terhadap kesehatan itu sendiri, kita tidak pernah menyangka virus bisa melumpuhkan dunia, setelah 1818 kita masih belum punya kemampuan untuk menghindari dan antisipasi yang masih terbatas,” ungkapnya.

Selain itu, dia mengatakan bahwa sektor penting yang perlu diperhatikan adalah dari sisi ketenagakerjaan dan sumber daya manusia (SDM)

“Ini dari sisi kesehatan perlu direset bagaimana menghadapi ancaman baru, yaitu pandemi. Kedua dari sisi tenaga kerjanya, ita dihadapkan dengan lapangan kerja yang menyusut. Orang yang ga dapat kerja harus di reseting, kita mau arahnya gimana nih?” ujarnya.

Ketiga dari sisi, perilaku konsumen yang juga harus dilihat karena perubahan ini mengubah hal-hal yang mendasar, seperti kantor, sebagian sektor bisa dikerjakan dari rumah. Perilaku ini mengubah segalanya, perlu didukung infrastruktur pendukung.

Dia meyakini bahwa kebutuhan vaksin akan terjawab pada awal 2021. Namun, strategi yang perlu dilakukan saat ini adalah bersiap untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang ada.

“Awal tahun depan vaksin ketemu, saya meyakini bisa ketemu tetapi ini menjadi catatan bagaimana pandemi 6 bulan ini ada bekasnya bagi kehidupan kita. Ini yang perlu dipelajari untuk bisa antisipasi ke depan bila menghadapi keadaan yang sama,” ungkapnya.

Sekadar catatan, Melalui Pidato kenegaraan tahun ini, Presiden Jokowi mengibaratkan perekonomian negara-negara di dunia yang tengah tertekan akibat pandemi Covid-19 seperti komputer yang sedang macet.

"Ibarat komputer, perekonomian semua negara saat ini sedang macet, sedang hang. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan restart, harus melakukan re-booting," papar Jokowi dalam pidato kenegaraan di Sidang Paripurna DPR/MPR, Jumat (14/8/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi apindo
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top