Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Ban Nantikan Vaksin Sebagai Strategi Pendongkrak Produksi

Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) enggan memperbarui data rata-rata utilisasi pabrikan sejak Juni 2020. Adapun, utilisasi pabrikan pada akhri semester I/2020 berada di kisaran 60 persen.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  21:10 WIB
Ban mobil merek Goodyear.  - reuters
Ban mobil merek Goodyear. - reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Industri ban nasional saat ini memilih untuk menjalankan proses produksinya dengan utilisasi pabrik di ambang batas.

Adapun, industri ban diramalkan baru akan kembali tumbuh positif pada kuartal I/2021.

Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) enggan memperbarui data rata-rata utilisasi pabrikan sejak Juni 2020. Adapun, utilisasi pabrikan pada akhri semester I/2020 berada di kisaran 60 persen.

"Ini Presiden Jokowi sedang sibuk, nanti dibilang [data utilisasi Juli 2020 malah tambah] kacau lagi. Pokoknya terjadi penurunan, [tidak] seperti yang kami harapkan karena [pandemi] Covid-19 ini di luar dugaan," ujar Ketua Umum APBI Azis Pane kepada Bisnis, Rabu (5/8/2020).

Azis menyatakan pabrikan ban nasional telah menyesuaikan strategi produksi dengan asumsi pandemi akan berakhir pada akhir kuartal III/2020. Namun demikian, penanganan Covid-19 di dalam negeri masih belum selseai.

Alhasil, saat ini pabrikan ban dihadapkan oleh dua pilihan, yakni menghentikan proses produksi atau tetap menjalankan kegiatan produksi dengan utilitas terbatas. Seperti diketahui, utilisasi pabrikan merosot lantaran permintaan di dalam dan luar negeri hampir tidak ada.

Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) mendata pasar ekspor mendominasi alokasi produksi industri ban mobil hingga 73,15 persen atau 57,3 juta unit pada 2019. Sementara itu, pasar domestik mendominasi alokasi produksi industri ban sepeda motor hingga 92,58 persen atau sekitar 61,4 juta unit.

Karena proyeksi penyelesaian pandemi yang meleset, Azis menyatakan pabrikan ban saat ini telah menambah shitf menjadi tiga regu dari posisi bulan lalu sebanyak dua shift. Menurutnya, satu-satunya katalis yang bisa membuat industri ban nasional kembali bergairah adalah penemuan vaksin Covid-19.

Dengan kata lain, industri ban baru akan kembali tumbuh positif secepatnya kuartal I/2020. "You mau kasih stimulus [ekonomi]? Mereka [pabrikan] bilang tidak mau [tenaga kerjanya] mati."

Di sisi lain, Azis melihat adanya peningkatan permntaan pada ban sepeda. Menurutnya, saat ini industri sepeda telah mengajukan permohonan impor ban sepeda lantaran pabrikan lokal tidak dapat memenuhi permintaan tersebut.

Sebagai catatan, ada tujuh produsen ban sepeda pada akhir 2019 dengan total produksi mencapai 62,2 juta unit. Ketujuh pabrikan tersebut adalah PT Industri Karet Deli, PT Hung A Indonesia, PT Suryaraya Rubb. Indtr, PT Banteng Pratama, PT United King Land, PT Megasave Tyre Industri, dan PT Kenda Rubber Indonesia.

Namun demikian, pabrikan sepeda berorientasi domestik hanya ada dua, yakni PT Industri Karet Deli dan PT Kenda Rubber Indonesia. Kedua pabrikan tersebut memiliki total produksi ban sepeda sekitar 18,7 juta unit atau 30,13 persen dari total produksi industri ban sepeda nasional.

Artinya, dengan asumsi satu unit sepeda membutuhkan dua unit ban sepeda, permintaan sepeda pada Juni-Juli 2020 telah melebihi 1.500 unit sepeda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stimulus industri ban
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top