Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Hambat Pengembangan Energi Hijau

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto mengatakan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan penurunan permintaan pada komoditas energi yang berbasis fosil, sehingga menyebabkan pelemahan harga pada tahun ini.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  13:52 WIB
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wali Barokah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). Pembangunan PLTS senilai Rp10 miliar dengan panel surya seluas 41 meter x 40 meter tersebut mampu menghasilkan listrik 220.000 Watt per hari. - ANTARA / Prasetia Fauzani
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wali Barokah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). Pembangunan PLTS senilai Rp10 miliar dengan panel surya seluas 41 meter x 40 meter tersebut mampu menghasilkan listrik 220.000 Watt per hari. - ANTARA / Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi virus corona (Covid-19) tidak hanya memberikan dampak terhadap energi fosil, tapi hal itu turut berdampak bagi pengembangan energi baru dan terbarukan.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto mengatakan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan penurunan permintaan pada komoditas energi yang berbasis fosil, sehingga menyebabkan pelemahan harga pada tahun ini.

"Memang kemarin saat pandmei energi fosil menjadi murah dan berat untuk mengembankan EBTKE, tapi kita tidak meneyerah kita terus membuat program kegiatan itu dan terus mebiayai ini," katanya pada Rabu (29/9/2020).

Dia menjelaskan, porsi EBT dalam bauran energi nasional yang tertuang dalam Rancana Umum Energi Nasional (RUEN) hingga 2025 mendatang ditargetkan bisa mencapai 23 persen.

Hingga 2019, realisasi bauran EBT baru mencapai 9,15 persen dari target 11 persen pada tahun ini. Rendahnya realisasi tersebut disebabkan karena tren penggunaan bahan bakar berbasis fosil masih dominan.

"Kalau di lihat lima tahun terkahir EBT terus meningkat. Kita mencoba tetap optimistis 2025 bisa 23 persen sesuai target yang kita canangkan," jelasnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat, kapasitas pembangkit listrik EBT dalam lima tahun terakhir terus meningkat mulai dari 2015 8.496 MW, pada 2016 sebesar 8.986 MW, 2017 menjadi 9.379 MW, dan 2018 menjadi 9.781 MW, serta 2019 meeningkat menjadi 10.157 MW. Sementara pada tahun ini ditargetkan meningkat jadi 10.843 MW.

Sementara itu, produksi biodiesel yang tercatat sejak 2014 mengalami tren yang naik turun.

Pada 2014 produksi biodiesel mencapai 3,96 juta kilo liter (KL), 2015 total produksi turun menjadi 1,62 juta kl, 2016 kembali meningkat menjadi 3,65 kl, pada tahun selanjutnya kembali turun menjadi 3,41 juta kl. Sementara pada 2018 meningkat menjadi 6,16 juta kl dan 2019 menjadi 8,37 juta kl. Pada 2020 produksi biodiesel ditargetkan menjadi 10 juta kl.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan ebt
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top