Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonom: Realisasi Investasi di Semester II/2020 Berpotensi Membaik

Realisasi investasi pada semester II/2020 bisa lebih baik, dipengaruhi pleh faktor pemulihan ekonomi China dan penerapan new normal.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  16:07 WIB
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memberikan paparan dalam CORE Economic Outlook 2019 bertajuk Memperkuat Ekonomi di tengah Tekanan Global, di Jakarta, Rabu (21/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memberikan paparan dalam CORE Economic Outlook 2019 bertajuk Memperkuat Ekonomi di tengah Tekanan Global, di Jakarta, Rabu (21/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom memproyeksikan investasi di semester kedua tahun ini akan membaik dari realisasi investasi di semester petama.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi langsung pada semester I/2020 adalah sebesar Rp402,6 triliun, tumbuh tipis 1,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi realisasi investasi pada semester II/2020 bisa lebih baik, dipengaruhi pleh faktor pemulihan ekonomi China dan penerapan new normal.

Meski demikian, Faisal menilai risiko ke depan masih tetap besar karena penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia masih mengalami akselerasi.

Faisal mengatakan, Indonesia bisa memanfaatkan peluang pada industri manufaktur, sejalan dengan investasi di sektor tersebut yang mulai meningkat sejak akhir 2019, khususnya pada subsektor logam dasar, makanan minuman dan farmasi.

"Sekarang, investasi manufaktur kembali melampaui investasi jasa, kembali seperti kondisi sebelum tahun 2017. Peningkatan investasi manufaktur setidaknya bisa sedikit meredam kontraksi investasi di sektor jasa," katanya kepada Bisnis, Rabu (22/7/2020).

Namun, imbuhnya, masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk bisa menarik investasi lebih banyak ke sektor manufaktur.

Keluhan investor di sektor manufaktur, mulai dari kejelasan regulasi perizinan, masalah upah tenaga kerja yang cepat naik sementara kurang diimbangi dengan produktivitas khususnya di daerah-daerah industri, dan insentif pajak.

"Itu yang harus segera diperbaiki kalau kita ingin bisa bersaing dengan negara-negara lain," tuturnya.

Faisal pun menyampaikan, Indonesia masih kalah bersaing dengan negara-negara tetangga, seperti vietnam dan filipina, khususnya untuk menarik investasi manufaktur yang berorientasi ekspor.

Dia juga menilai, Indonesia juga memiliki peluang yang lebih kecil terkait relokasi investasi dari China. Negara-negara tetangga dinilai lebih unggul karena memberikan lebih banyak insentif dan kemudahan ekspor impor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi New Normal
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top