Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tarif Gas Turun, Baru 44 Persen Pabrikan Keramik yang Nikmati

Asosiasi Aneka Keramik (Asaki) menyebutkan baru akan ada 44 persen pabrikan yang baru dapat menikmati tarif US$6 per mmBTU.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 06 Juli 2020  |  15:37 WIB
Ilustrasi pabrik keramik. - Bisnis.com
Ilustrasi pabrik keramik. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Telah satu suku tahun penurunan tarif gas untuk sektor manufaktur telah memiliki payung hukum aturan teknis, tetapi baru beberapa pabrikan yang bisa menikmati tarif gas di level US$6 per mmBTU. Setidaknya perlu sekitar 30 hari lagi agar seluruh 196 pabrikan yang tersebar dalam tujuh sektor manufaktur dapat menikmati tarif US$6 per mmBTU.

Asosiasi Aneka Keramik (Asaki) mendata hingga medio Juli 2020, baru akan ada 44 persen pabrikan yang baru dapat menikmati tarif US$6 per mmBTU. Dengan kata lain, baru sekitar 26 pabrikan keramik yang menikmati penurunan tarif tersebut pada akhir semester I/2020.

"Komunikasi dengan PGN [PT Perusahaan Gas Negara Tbk.] Jumat lalu [3/7/2020] bisa 100 persen pada Agustus nanti. [56 persen pabrikan] masih menggunakan harga lama sekitar US$9,1 per mmBTU pada tagihan Juni 2020," kata Ketua Umum Asaki Edy Suyanto kepada Bisnis.com, Senin (6/7/2020).

Edy mengatakan tidak meratanya penurunan tarif gas tersebut disebabkan oleh penandatangangan surat kesepakatan (letter of agreement/LoA) antara pabrikan hulu dan hilir yang baru mencapai 44 persen. Adapun, lanjutnya, setidaknya 13 pabrik keramik di Jawa bagian timur akan menikmati tarif gas US$6 per mmBTU pada Agustus 2020.

Seperti diketahui, ada enam pabrikan hilir gas yang menyalurkan gas kepada industri keramik yakni PGN (50 pabrik), PT Pertagas Niaga (2 pabrik,), PT Energasindo Helsa Karya (1 pabrik), PT Pelangi Cakrawala Losarang (1 pabrik), PT Sadikin Niadamas Raya (1 pabrik), dan PT Bayu Buana Gemilang (1 pabrik). Secara total, industri keramik berencana untuk mengonsumsi 332,47 BBTUD gas sepanjang 2020 berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 89k/2020.

Walau tarif gas sudah turun, Edy menyatakan pabrikan keramik belum akan melakukan akselerasi produksi pada tahun ini. Berdasarkan catatan Edy, utilitas industri keramik baru akan kembali ke posisi pra-pandemi pada kuartal II/2021. Setelah itu, konsumsi gas baru akan meningkat dari kondisi normal pada kuartal IV/2021 seiring meningkatnya utilitas pabrikan ke level 70 persen.

Utilitas industri keramik akan terus bertambah sebesar 5 persen seriap semseternya dan akan menyentuh level 90 persen pada kuartal IV/2023. Edy berujar industri keramik nasional sebelumnya menyentuh tingkat utilitas di level 90 persen pada 2012/2013.

Oleh karena itu, Edy juga meminta agar pemerintah dapat menghampus minimum pemakaian gas pada semester II/2020. Pasalnya, Edy memastikan maypritas pabrikan belum dapat beroperasi secara normal dalam wakti dekat.

"Mayoritas industri belum bisa berproduksi normal di tengah lesunya daya beli dan level persediaan produk jadi yang over [menumpuk] di gudang pabrik-pabrik keramik," ucapnya.

Selain itu, Edy kini sangat berharap pada program infrasturktur pemerintah dan program sejuta rumah msayarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk meningkatkan permintaan pada semester II/2020. Pasalnya, lanjutnya, serapan keramik di pasar domestik diramalkan merosot 35-40 persen secara tahunan pada semester I/2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur keramik Harga Gas
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top