Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

INDEF Soal Anggaran PEN: Hitungnya Bisa, Duitnya Tidak Ada

Tantangan terbesar pemerintah, yaitu bagaimana mengelola anggaran yang terus bertambah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 19 Juni 2020  |  21:54 WIB
Ekonom Senior Indef Drajad Wibowo (tengah) bersama Hanafi Rais (kanan) dan Juru bicara KPK Febri Diansyah (kiri) bersiap menjawab pertanyaan wartawan ketika mendatangi gedung KPK di Jakarta, Senin (5/6). - Antara/Wahyu Putro A
Ekonom Senior Indef Drajad Wibowo (tengah) bersama Hanafi Rais (kanan) dan Juru bicara KPK Febri Diansyah (kiri) bersiap menjawab pertanyaan wartawan ketika mendatangi gedung KPK di Jakarta, Senin (5/6). - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA--Ekonom Senior INDEF Drajad Wibowo menilai permasalahan utama yang dihadapi pemerintah di era pandemi Covid-19, yaitu tidak adanya likuiditas.

Dia mengibaratkan situasi perekonomian saat ini ibarat satu keluarga yang memiliki begitu banyak kebutuhan, tetapi tidak punya dana.

"Situasi sekarang seperti utak-atik di atas kerja, tetapi duit di lemari terbatas. [Pemerintah] Ngitungnya bisa, duitnya enggak ada," katanya dalam diskusi virtual, Jumat (19/6/2020).

Drajad mengatakan tantangan terbesar Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, yaitu bagaimana mengelola anggaran yang terus bertambah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Permasalahan fiskal yang dihadapi pemerintah saat ini, lanjutnya, yaitu turunnya rasio atau penerimaan pajak sejak beberapa tahun terakhir.

Karena itu, dia meminta agar pemerintah melakukan cara-cara non-konvensional untuk menarik penerimaan di masa sulit.

"Sebelum ada pandemi Covid-19 ekonomi kita sudah drop, meskipun tidak separah sekarang. Solusinya ya kejar sumber-sumber penerimaan pajak dan negara yg selama ini terlewat, isalnya dari tambang mineral nikel atau cukai," imbuhnya.

Perkiraan kebutuhan pembiayaan utang meningkat akibat pelebaran defisit APBN dan kebutuhan investasi neto. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat kebutuhan pembiayaan utang tahun telah meningkat sebesar Rp905,2 triliun dari posisi sebelumnya Rp741,8 triliun. Dengan demikian, total kebutuhannya mencapai Rp1.647,1 triliun.

Seperti diketahui, defisit fiskal 2020 melebar hingga 6,34 persen terhadap PDB atau Rp1.039,2 triliun dari 1,76 persen atau Rp307,2 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenkeu indef
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top