Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan Ekonomi Indonesia Bakal Lebih Lama dari Singapura dan Vietnam, Kok Bisa?

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada akhir 2020 diperkirakan mengalami kontraksi sangat dalam, yaitu -2,5 persen hingga -3,9 persen jika wabah virus Corona tidak tertangani secara optimal.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 17 Juni 2020  |  18:40 WIB
Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk. M. Chatib Basri - JIBI/Nurul Hidayat
Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk. M. Chatib Basri - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri memprediksi pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi virus Corona (Covid-19) akan lebih lama dibandingkan negara lain, khususnya Singapura dan Vietnam.

Menurutnya, hal itu terjadi karena porsi perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi nasional (gross domestic product) tidak lebih dari 30 persen. Jumlah tersebut jauh dibandingkan Singapura yang mencapai 200 persen.

"Ketika dunia akan mulai pulih, Indonesia justru melambat. Pemulihan ekonomi nasional membutuhkan waktu lebih panjang karena kita terintegrasi [perdagangan global], seperti Singapura atau Vietnam," katanya dalam diskusi webinar yang digelar oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan dan The Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD), Selasa (17/6/2020).

Itu sebabnya, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 membukukan nilai yang cukup positif, yaitu 2,97 persen (yoy). Padahal, banyak negara maju yang sudah mencatat kontraksi pada awal tahun akibat meluasnya wabah Covid-19 dari Wuhan, China ke berbagai negara.

Chatib memprediksi pemulihan ekonomi dunia setelah pandemi Covid-19 lebih mengikuti bentuk U (U shape) dibandingkan bentuk V (V shape). Fase perlambatan akan berlangsung lebih lama dari perkiraan, meskipun sudah mencapai dasar (bottom).

Menurutnya, krisis Corona telah merontokkan sisi pasokan (supply), tetapi permintaan (demand). Jika mengacu pada kondisi di China, Chatib menuturkan sebagian pabrik-pabrik di Negeri Tirai Bambu sudah beroperasi. Namun, roda perekonomian belum bergerak maksimal.

"Covid-19 telah menimbulkan supply-demand shock. Pasokan di China mulai pulih, tetapi demand masyarakat masih lemah. Makanya, pemerintah perlu kebijakan fiskal untuk menjadi jump start mendorong konsumsi," ucapnya.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada akhir 2020 (full year) diperkirakan mengalami kontraksi sangat dalam, yaitu -2,5 persen hingga -3,9 persen jika wabah virus Corona (Covid-19) tidak tertangani secara optimal. Prediksi tersebut dikeluarkan oleh The Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi indonesia pemulihan ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top